Faktanusa.com, KUTAI KARTANEGARA – Kecamatan Kembang Janggut menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang mulai merintis konsep One District One Industry (ODOI) untuk mengembangkan industri berbasis potensi lokal. Inisiatif ini mendorong kolaborasi pemerintah kecamatan, perusahaan, koperasi, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, mengatakan ODOI merupakan pengembangan gagasan One Village One Product (OVOP) pada skala kecamatan. Melalui pendekatan ini, potensi usaha dari sejumlah desa diharapkan dapat dihubungkan untuk mendukung pengembangan industri unggulan wilayah.

“Di Kembang Janggut, pemerintah kecamatan mulai menerjemahkan gagasan produk unggulan menjadi rencana pengembangan usaha yang lebih luas. Potensi dari desa-desa diharapkan dapat saling mendukung sehingga terbentuk industri yang menjadi kekuatan ekonomi kecamatan,” kata Arianto, Sabtu (17/10/2026)

Arinato berujar, rintisan itu mulai diperkenalkan melalui lokakarya UMKM bertema OVOP di Balai Pertemuan Umum Kantor Camat Kembang Janggut pada 1 Oktober lalu. Kegiatan itu menjadi langkah awal untuk mendorong keterlibatan pelaku usaha dan pemerintah dalam mengembangkan potensi ekonomi setempat.

Arianto menyebut keterlibatan perusahaan menjadi salah satu unsur yang dapat mendukung pengembangan industri lokal. Namun, kerja sama tersebut juga perlu melibatkan koperasi dan UMKM agar pertumbuhan usaha memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

“Pengembangan ini membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah kecamatan, perusahaan, koperasi, dan UMKM perlu mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing agar potensi ekonomi yang tersedia bisa dikembangkan secara terarah,” jelasnya.

Arianto membeberkan, data yang dihimpun pihaknya mencatat keberadaan usaha masyarakat di sejumlah desa, termasuk sektor kuliner dan kerajinan tangan. Data tersebut dapat menjadi salah satu dasar untuk mengidentifikasi bidang usaha yang berpeluang dikembangkan lebih lanjut.

Meski demikian, penentuan industri unggulan masih memerlukan pemetaan terhadap ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, kebutuhan pendampingan, dan akses distribusi. Langkah ini penting untuk memastikan sektor yang dipilih memiliki prospek usaha dan mampu berjalan secara berkelanjutan.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya jenis produk yang bisa dihasilkan, tetapi juga kemampuan untuk memproduksinya secara berkelanjutan dan memasarkannya. Karena itu, perencanaan harus disertai kerja sama dan kesiapan pelaku usaha,” ungkap Arianto.

Ia berharap rintisan ODOI di Kembang Janggut dapat menjadi referensi bagi kecamatan lain dalam mengembangkan industri berbasis potensi lokal. Pengembangan selanjutnya akan bergantung pada karakteristik wilayah, kesiapan pelaku usaha, serta kemampuan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

“Program ini sangat positif, semoga desa dan kelurahan lain juga segera memunculkan produk unggulannya masing-masing,” tutup Arianto. (Adv)

Loading