
Faktanusa.com, KUTAI KARTANEGARA – Dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan tempat tinggal dan hilangnya barang-barang milik keluarga. Bagi anak-anak yang mengalami langsung peristiwa tersebut, musibah juga berpotensi meninggalkan tekanan emosional yang memerlukan perhatian khusus selama proses pemulihan.
Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri berupaya memastikan anak-anak terdampak kebakaran di Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, tetap memperoleh pendampingan. Ia menyebut, pemulihan psikologis menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar pengalaman traumatis tidak menghambat perkembangan dan masa depan mereka.
“Bagi anak-anak, kita ingin memastikan kejadian ini tidak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita mereka. Kita harus membantu mereka melewati pengalaman berat ini supaya tetap memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupan,” ujar Aulia, Minggu (18/10/2026)
Ia mengungkapkan, peristiwa kebakaran tersebut berdampak pada 11 rumah dan 15 kepala keluarga (KK). Di tengah upaya keluarga memulihkan kondisi setelah kehilangan tempat tinggal, kebutuhan anak-anak perlu menjadi bagian dari perhatian dalam penanganan pascakebakaran.
Aulia mengatakan, pemerintah daerah telah mendatangkan psikolog untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak korban. Langkah ini dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa pengalaman menghadapi kebakaran dapat menimbulkan respons emosional yang berbeda pada setiap anak.
“Kita memahami bahwa setelah mengalami kejadian seperti ini, ada kondisi psikologis yang harus diperhatikan,” jelasnya.
Menurutnya, pemulihan psikologis tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama terhadap semua korban. Anak-anak membutuhkan perhatian yang sesuai dengan kondisi masing-masing, termasuk ruang untuk memulihkan diri tanpa merasa tertekan oleh situasi di sekitarnya.
“Pendampingan perlu dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan anak-anak, bukan sekadar datang dan menanyakan apa yang mereka alami,” katanya.
Aulia turut mengingatkan, perhatian masyarakat terhadap korban perlu diberikan secara bijaksana. Kunjungan dan kepedulian memang dapat menjadi bentuk dukungan, tetapi terlalu banyak pertanyaan atau kedatangan orang dalam waktu bersamaan berpotensi membuat korban merasa tidak nyaman.
Pendekatan yang lebih peka diperlukan agar anak-anak dan keluarga dapat menjalani proses pemulihan dengan tenang. Dukungan sebaiknya diberikan tanpa memaksa korban menceritakan kembali pengalaman yang mungkin masih membekas.
“Kadang-kadang niat kita datang adalah untuk membantu, tetapi kita juga harus memahami perasaan orang yang sedang mengalami musibah. Jangan sampai perhatian yang kita berikan justru membuat mereka semakin tidak nyaman,” ungkap Aulia.
Selain pemulihan emosional, pemerintah daerah ingin memastikan anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar tujuan hidup mereka. Kondisi darurat setelah kebakaran tidak seharusnya membuat masa depan anak terabaikan, sehingga kebutuhan mereka perlu diperhitungkan dalam penanganan keluarga terdampak.
Aulia menekankan bahwa anak-anak membutuhkan dukungan untuk kembali membangun rasa aman dan keyakinan terhadap masa depan. Pendampingan yang tepat, disertai dukungan keluarga dan lingkungan, diharapkan membantu mereka melewati masa sulit secara bertahap.
“Kita ingin mereka bisa bangkit kembali dan tetap melanjutkan cita-citanya. Musibah ini tidak boleh membuat kesempatan mereka untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan menjadi hilang,” tutupnya. (Adv)
![]()

