Faktanusa.com, Balikpapan – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan terus memperkuat pendidikan politik bagi masyarakat, khususnya kalangan muda, melalui kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 bertema “Menjadi Pemilih Cerdas, Menciptakan Demokrasi Berkualitas” yang digelar di Asta Caffe, Balikpapan.  Kamis (23/7/2026)

Kegiatan tersebut dihadiri puluhan peserta dari berbagai elemen pemuda, mulai dari mahasiswa, organisasi kepemudaan hingga kalangan akademisi Universitas Balikpapan (Uniba). Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka mengenai pentingnya peran generasi muda dalam menentukan arah demokrasi Indonesia melalui penggunaan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab.

Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono, menegaskan bahwa demokrasi yang berkualitas tidak mungkin lahir apabila hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu semata. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda sebagai pemilih terbesar pada pemilu mendatang, harus mengambil bagian aktif dalam membangun budaya demokrasi yang sehat.

Dalam paparannya, Prakoso mengawali dengan menggambarkan cita-cita bersama mengenai masyarakat ideal atau masyarakat utopis yang memiliki moralitas tinggi, hidup sejahtera tanpa penderitaan, serta menjunjung tinggi keadilan sosial.

“Kita semua memiliki cita-cita yang sama tentang masyarakat yang ideal. Tetapi untuk mewujudkan demokrasi yang berkualitas tidak mungkin hanya dibebankan kepada KPU. Demokrasi membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama masyarakat sebagai pemilih,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sebuah pemilu yang demokratis setidaknya memiliki empat unsur penting, yakni adanya peserta yang dipilih, masyarakat yang memilih, aturan yang mengatur proses pemilihan, serta penyelenggara yang menjalankan seluruh tahapan secara profesional.

Karena itu, lanjutnya, keberhasilan demokrasi tidak hanya diukur dari kelancaran penyelenggaraan pemilu, tetapi juga dari kualitas pilihan masyarakat dalam menentukan pemimpin.

Prakoso menilai, pemilih yang cerdas merupakan fondasi utama lahirnya pemimpin berkualitas.

Menurutnya, seorang pemilih harus mengenali rekam jejak calon pemimpin, memahami visi dan misi yang ditawarkan, mampu menyaring informasi yang benar di tengah derasnya arus media sosial, serta tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat.

“Pemilih cerdas itu tahu siapa yang dipilih, memahami rekam jejaknya, mengerti gagasan serta visi misinya. Jangan memilih karena keuntungan sesaat, tetapi karena cita-cita besar untuk masa depan daerah dan bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat semakin kritis dalam menerima informasi politik yang beredar menjelang pesta demokrasi.

Menurutnya, maraknya penyebaran informasi yang belum tentu benar menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas demokrasi.

Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi menjadi salah satu syarat penting bagi setiap pemilih, khususnya generasi muda yang sehari-hari akrab dengan media digital.

Dalam kesempatan tersebut, Prakoso mengajak seluruh peserta menjadi agen pendidikan politik di lingkungan masing-masing.

Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono

Ia berharap para peserta tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi ikut mengedukasi keluarga, teman maupun masyarakat sekitar mengenai pentingnya menjadi pemilih yang cerdas.

“Teman-teman yang hadir hari ini kami harapkan menjadi agen perubahan. Mari mengajak masyarakat lain agar bersama-sama menjadi pemilih yang cerdas sehingga ke depan kita mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat Kota Balikpapan,” katanya.

Menurut Prakoso, apabila masih terdapat kesenjangan antara cita-cita demokrasi dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat saat ini, maka hal tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama.

Ia mengutip pesan bahwa perubahan hanya akan terjadi apabila masyarakat bersedia mengubah cara berpikir dan cara bertindak menuju sesuatu yang lebih baik.

“Kalau hari ini kita merasa ada perbedaan antara kondisi ideal dan realitas yang terjadi, berarti ada sesuatu yang harus kita perbaiki bersama. Jangan mengulangi kesalahan yang sama apabila kita ingin mendapatkan hasil yang berbeda,” ujarnya.

Selain paparan dari Ketua KPU, kegiatan juga menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi Universitas Balikpapan yang membahas hubungan erat antara kebijakan politik dan kondisi ekonomi masyarakat.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai partisipasi politik generasi muda, tantangan demokrasi digital, hingga upaya menangkal praktik politik transaksional.

Menutup sesi diskusi, panitia memberikan apresiasi berupa bingkisan kepada lima peserta yang aktif bertanya sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka dalam forum tersebut.

Usai kegiatan, Prakoso menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut merupakan bagian dari program pendidikan pemilih berkelanjutan yang secara khusus menyasar generasi muda.

Menurutnya, kelompok usia milenial dan Generasi Z akan menjadi mayoritas pemilih pada pemilu dan pilkada mendatang sehingga perlu dipersiapkan sejak dini agar memiliki pemahaman politik yang baik.

“Hari ini kami sengaja mengundang perwakilan pemuda Kota Balikpapan untuk berdiskusi sebagai bagian dari pendidikan pemilih. Harapannya ketika pemilu dan pilkada tiba, mereka menjadi pemilih yang cerdas sehingga mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas. Demokrasi yang berkualitas sangat ditentukan oleh kualitas pemilihnya,” ujar Prakoso kepada wartawan.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari strategi KPU dalam meningkatkan partisipasi masyarakat pada pemilu mendatang.

Berdasarkan hasil pemutakhiran data pemilih berkelanjutan, jumlah pemilih dari kalangan milenial dan Generasi Z terus mengalami peningkatan.

Kondisi itu membuat KPU akan lebih memfokuskan berbagai program pendidikan pemilih kepada dua kelompok usia tersebut.

“Tren jumlah pemilih dari generasi milenial dan Gen Z terus meningkat. Karena itu kami akan semakin fokus melakukan pendidikan pemilih kepada dua generasi ini agar tingkat partisipasi sekaligus kualitas partisipasinya juga meningkat,” katanya.

Terkait rendahnya minat sebagian anak muda terhadap politik, Prakoso menilai kondisi tersebut harus dijawab dengan edukasi yang berkelanjutan, bukan dengan membiarkan mereka bersikap apatis.

Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa justru harus menjadi alasan bagi masyarakat untuk semakin aktif terlibat dalam proses demokrasi.

“Kalau hari ini ada kekecewaan terhadap kondisi bangsa atau masyarakat, bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru kita harus mengambil sikap berdasarkan evaluasi itu. Salah satunya dengan menjadi pemilih yang cerdas, memahami siapa yang dipilih, mengetahui visi misinya, tidak termakan hoaks dan menolak manipulasi politik,” tegasnya.

Prakoso mengakui KPU belum memiliki indikator yang benar-benar baku untuk mengukur keberhasilan program pendidikan pemilih.

Namun demikian, pihaknya akan terus memperbanyak kegiatan sosialisasi dengan menjaga kualitas materi dan narasumber agar dampaknya semakin luas.

“Ukuran yang paling memungkinkan bagi kami saat ini adalah meningkatkan kuantitas kegiatan tanpa mengurangi kualitasnya. Semakin banyak ruang diskusi yang dibangun, kami berharap kualitas pemilih juga akan ikut tumbuh,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan alasan KPU menghadirkan akademisi dari Fakultas Ekonomi Uniba sebagai narasumber.

Menurutnya, politik dan ekonomi merupakan dua bidang yang saling berkaitan erat karena setiap kebijakan politik akan berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat.

Pemahaman tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam praktik politik transaksional.

“Jangan sampai demokrasi kita berubah menjadi demokrasi transaksional. Kondisi ekonomi memang bisa menjadi tantangan, tetapi itu bukan alasan untuk menghalalkan politik uang. Pemilih harus memiliki motivasi yang benar dalam memilih pemimpin, bukan karena kepentingan sesaat,” katanya.

Menjelang pesta demokrasi berikutnya, Prakoso kembali mengingatkan bahwa praktik manipulasi politik dan penyebaran hoaks merupakan musuh bersama yang harus dilawan seluruh elemen masyarakat.

Ia menegaskan KPU tidak dapat bekerja sendiri menjaga kualitas demokrasi, melainkan membutuhkan dukungan masyarakat, media, kalangan akademisi, organisasi kepemudaan, hingga seluruh pemangku kepentingan.

“Manipulasi politik adalah musuh kita bersama. Karena itu kami mengajak seluruh komponen masyarakat, termasuk media dan generasi muda, untuk bersama-sama membangun budaya demokrasi yang jujur, cerdas, dan berkualitas demi masa depan Balikpapan yang lebih baik,” tutup Prakoso.

Penulis : Shinta Setyana

Loading