
Faktanusa.com, KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menempatkan Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244 sebagai momentum untuk memperkuat peran Tenggarong sebagai wajah daerah. Hal itu disampaikan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kukar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Tenggarong, Senin (28/9/2026).
Aulia mengatakan, peringatan hari jadi tidak semata menjadi momentum untuk mengenang bertambahnya usia kota, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan sejarah dan menentukan arah pembangunan Tenggarong ke depan.
“Tenggarong adalah etalase atau wajah Kutai Kartanegara,” kata Aulia.
Menurutnya, meskipun Kukar memiliki 20 kecamatan dengan karakteristik masing-masing, Tenggarong memiliki posisi penting karena menjadi tempat pertama yang dilihat masyarakat ketika datang ke daerah tersebut.
Karena itu, berbagai aspek kehidupan di Tenggarong dinilai turut mencerminkan wajah Kabupaten Kukar secara keseluruhan. Mulai dari kebersihan kota, kualitas pelayanan pemerintah, kehidupan masyarakat hingga budaya dan keramahan warga.
“Orang datang ke Tenggarong dan melihat wajah Kukar. Orang melihat kebersihan kotanya, maka orang akan melihat wajahnya Kukar. Orang melihat bagaimana pelayanan pemerintah diberikan, orang melihat wajah pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara,” ujarnya.
Aulia menegaskan, Tenggarong ke depan tidak cukup hanya tampil sebagai kota yang indah secara visual. Lebih dari itu, kota tersebut harus mampu mencerminkan kualitas pembangunan, pelayanan, masyarakat hingga peradaban Kukar.
“Karena itu, Tenggarong harus menjadi etalase Kutai Kartanegara. Bukan etalase yang hanya indah dilihat, tetapi kota yang mencerminkan kualitas pembangunan, kualitas pelayanan, kualitas masyarakat, dan kualitas peradaban kita,” tegasnya.
Ia berharap momentum Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244 dapat menjadi pengingat bagi seluruh pihak bahwa pembangunan kota membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama.
Aulia juga mengajak seluruh elemen daerah menjaga kekompakan dalam membangun Kukar. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk memecah arah pembangunan daerah.
“Perbedaan itu pasti ada, akan tetapi perbedaan bukan untuk memecah langkah gerak kita. Perbedaan untuk kita diskusikan, untuk kita bicarakan, kita cari jalan temunya,” pungkas Aulia. (Adv)
![]()

