
Faktanusa.com, Balikpapan – Sebanyak 320 peserta Pelatihan Kader Bela Negara Tingkat Pratama Tahun 2026 didorong menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia berharap para kader mampu menjadi garda terdepan dalam menanamkan nasionalisme, menjaga persatuan, hingga menangkal penyebaran hoaks dan disinformasi.
Pesan tersebut disampaikan Brigjen TNI Luhut Marpaung dari Kementerian Pertahanan RI dalam kegiatan pelatihan yang berlangsung selama tiga hari di Rindam VI/Mulawarman, Kalimantan Timur.
Pelatihan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan hingga komunitas. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai pentingnya bela negara yang tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat pertahanan, tetapi juga seluruh warga negara.
Luhut menjelaskan, kader bela negara dibentuk bukan untuk mencetak masyarakat yang memiliki kemampuan militer. Lebih dari itu, program tersebut bertujuan membangun karakter, integritas, serta kesadaran kebangsaan agar setiap individu mampu memberikan kontribusi positif melalui profesinya masing-masing.
Menurutnya, pengabdian kepada negara dapat dilakukan melalui berbagai bidang pekerjaan dan aktivitas sosial. Karena itu, peserta diharapkan tidak hanya memahami materi selama pelatihan, tetapi juga mampu menerapkannya setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
“Harapannya mereka menjadi duta di lingkungan masyarakat masing-masing. Mengabdi melalui profesinya, tidak harus menjadi tentara. Melalui profesi yang ada sekarang, mereka bisa menjadi duta bela negara,” ujarnya.

Ia menekankan, semangat bela negara harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, meningkatkan kepedulian sosial, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Tantangan tersebut semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi. Luhut menilai, penyebaran hoaks dan disinformasi menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi bersama karena berpotensi memicu konflik serta mengganggu persatuan masyarakat.
Menurutnya, ancaman terhadap keutuhan bangsa tidak selalu berbentuk serangan fisik. Penyebaran informasi yang menyesatkan juga dapat menjadi ancaman serius apabila masyarakat mudah terpengaruh dan ikut menyebarkan kabar yang belum dipastikan kebenarannya.
“Kita sekarang ini berperang dengan hoaks dan disinformasi. Jangan menjadi bagian dari penyebar hoaks, tetapi justru memberikan kesejukan, melawan hoaks dan disinformasi,” tegasnya.
Karena itu, para kader diharapkan mampu menjadi contoh dalam menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Mereka perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.
Luhut juga mengingatkan bahwa keberadaan kader bela negara harus memberikan manfaat nyata. Mereka diharapkan menjadi penghubung yang mampu menyampaikan pesan-pesan kebangsaan secara positif, sehingga nilai nasionalisme tetap tumbuh di tengah dinamika kehidupan masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, penyematan pin kader bela negara juga menjadi bagian penting. Pin tersebut merupakan simbol sekaligus pengingat mengenai tanggung jawab moral yang melekat pada setiap peserta setelah mengikuti pelatihan.
Luhut menjelaskan, tidak ada sanksi hukum khusus apabila pin tersebut disalahgunakan. Namun, setiap kader tetap dituntut menjaga integritas dan memahami tanggung jawab yang menyertai identitas sebagai kader bela negara.
Sementara itu, peserta pelatihan, Mega Ardianty Rakmani, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan tersebut. Baginya, pelatihan selama tiga hari itu memberikan pengalaman sekaligus pemahaman lebih luas mengenai pentingnya menjaga kecintaan terhadap tanah air.
Mega mengatakan, ilmu yang diperoleh tidak hanya menjadi pengalaman pribadi, tetapi juga akan dibagikan kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
“Ilmu dan wawasan yang didapat selama tiga hari ini tentu akan diterapkan, terutama untuk bangsa Indonesia sendiri dan mengajak masyarakat agar tetap mencintai tanah air,” tuturnya.
Ia menilai, pertemuan dengan peserta dari berbagai latar belakang juga menjadi pengalaman tersendiri. Selain memperluas wawasan, kegiatan tersebut membuka kesempatan untuk membangun hubungan dan komunikasi antarkader.
Mega berharap, kebersamaan yang terjalin selama pelatihan tidak berakhir setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Menurutnya, hubungan antarpeserta perlu terus dipelihara agar semangat bela negara dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan positif.
Dengan terbentuknya 320 kader bela negara, diharapkan nilai-nilai nasionalisme semakin kuat di tengah masyarakat. Para peserta pun diharapkan mampu membuktikan bahwa bela negara bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang diwujudkan melalui tindakan, kepedulian, dan kontribusi nyata dalam menjaga keutuhan bangsa. (Shin/**)
![]()

