Faktanusa.com, Balikpapan – Kinerja penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan masih menunjukkan pertumbuhan positif pada triwulan III 2026. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang justru mengalami penurunan cukup dalam sebesar 10,42 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Wilayah kerja KPwBI Balikpapan meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.

Berdasarkan data Bank Indonesia, penyaluran kredit perbankan hingga triwulan III 2026 tercatat mencapai Rp42,53 triliun atau tumbuh 7 persen (yoy). Meski masih positif, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 17,66 persen (yoy), dengan nominal kredit sebesar Rp41,51 triliun.

Di sisi lain, penghimpunan DPK perbankan tercatat sebesar Rp44,58 triliun atau mengalami kontraksi 10,42 persen (yoy). Kondisi ini berbanding terbalik dengan triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 4,15 persen (yoy), dengan nominal mencapai Rp49,52 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa intermediasi perbankan masih menunjukkan kinerja positif di tengah tantangan penghimpunan dana masyarakat.

Penyaluran kredit yang tetap tumbuh mengindikasikan peran perbankan dalam mendukung aktivitas usaha, sektor riil, serta perekonomian daerah masih berjalan.

Pertumbuhan tersebut juga mencerminkan optimisme perbankan dan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi daerah, meskipun tantangan ekonomi global masih membayangi.

Namun, penguatan penghimpunan DPK dinilai perlu terus didorong agar kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit dapat semakin optimal.

Dari sisi ketahanan perbankan, kualitas kredit justru menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada triwulan III 2026 tercatat sebesar 2,34 persen, membaik dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 2,57 persen.

Rasio tersebut masih berada di bawah ambang batas 5 persen. Kondisi ini menunjukkan kualitas penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja KPwBI Balikpapan masih terjaga dan memberikan ruang bagi keberlanjutan pembiayaan sektor ekonomi.

Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh pembiayaan investasi yang memiliki pangsa terbesar, yakni 39,88 persen dari total kredit.

Kredit investasi tercatat tumbuh 7,86 persen (yoy). Penyaluran pembiayaan ini didukung keberlanjutan investasi pada proyek konstruksi, hilirisasi industri, serta optimisme pelaku usaha terhadap prospek perekonomian daerah.

Pertumbuhan kredit investasi menjadi penting karena berkaitan langsung dengan peningkatan kapasitas produksi, pengembangan usaha, penyerapan tenaga kerja, hingga penciptaan nilai tambah ekonomi.

Sementara itu, kredit konsumsi yang memiliki pangsa 35,60 persen tercatat tumbuh 6,43 persen (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,95 persen (yoy).

Peningkatan kredit konsumsi tersebut didukung daya beli masyarakat yang relatif terjaga. Pembiayaan ini tersalurkan melalui berbagai skema, mulai dari kredit multiguna, kredit pemilikan rumah, kendaraan, hingga jenis pembiayaan konsumsi lainnya.

Adapun kredit modal kerja tumbuh 6,46 persen (yoy). Pembiayaan ini digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional sektor usaha, seperti pembelian bahan baku dan pengelolaan persediaan barang.

Secara keseluruhan, pembiayaan perbankan untuk aktivitas usaha melalui kredit investasi dan modal kerja memiliki pangsa mencapai 64,40 persen. Sementara kredit konsumsi mengambil porsi 35,60 persen.

Dari sisi lapangan usaha, penyaluran kredit perbankan masih terkonsentrasi pada tiga sektor utama, yakni konstruksi, perdagangan, dan pertanian.

Sektor konstruksi memiliki pangsa 18,40 persen, disusul perdagangan sebesar 14,67 persen dan pertanian 11,12 persen.

Dominasi ketiga sektor tersebut sejalan dengan karakteristik perekonomian masing-masing daerah. Balikpapan menjadi pusat aktivitas perdagangan dan jasa, termasuk kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di Kalimantan.

Sementara Kabupaten PPU memiliki aktivitas ekonomi yang berkaitan erat dengan pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Adapun Kabupaten Paser memiliki sektor pertanian sebagai salah satu penopang perekonomian daerah.

Dari ketiga sektor tersebut, kredit perdagangan mencatat pertumbuhan 12,62 persen (yoy), sedangkan kredit pertanian tumbuh 4,67 persen (yoy). Keduanya menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Peningkatan pembiayaan perdagangan antara lain berkaitan dengan kebutuhan persediaan barang untuk menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, serta mulai menguatnya aktivitas MICE.

Penguatan kredit pertanian juga mencerminkan kebutuhan pembiayaan untuk mendukung kegiatan produksi dan pengembangan usaha, termasuk sektor perkebunan.

Berbeda dengan kedua sektor tersebut, kredit konstruksi mengalami kontraksi sebesar 2,17 persen (yoy). Kondisi ini terutama dipengaruhi aktivitas pembangunan kawasan IKN yang masih terbatas. Meski demikian, aktivitas pembangunan diprakirakan semakin masif pada triwulan IV 2026.

Perhatian lainnya terlihat pada penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga triwulan III 2026, kredit UMKM tercatat sebesar Rp12,88 triliun atau tumbuh 0,34 persen (yoy).

Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai Rp12,79 triliun, ketika penyaluran kredit UMKM mengalami kontraksi 0,23 persen (yoy).

Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan tercatat sebesar 30,28 persen, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 30,81 persen.

Selain peningkatan penyaluran, kualitas kredit UMKM juga menunjukkan perbaikan. Rasio NPL UMKM turun menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 4,2 persen.

Perbaikan tersebut menjadi salah satu indikasi positif bagi keberlanjutan pembiayaan UMKM. Dukungan pemerintah daerah, institusi, dan berbagai lembaga dalam meningkatkan kapasitas serta pemberdayaan pelaku UMKM turut berkontribusi terhadap terjaganya penyaluran kredit pada sektor tersebut.

Di tengah pertumbuhan kredit, penurunan DPK menjadi perhatian tersendiri. Berdasarkan strukturnya, penghimpunan dana masyarakat masih didominasi tabungan dengan pangsa 54,44 persen, disusul giro 27,88 persen dan deposito 17,69 persen.

Perkembangan kredit yang tetap tumbuh ketika DPK mengalami penurunan turut tercermin dari peningkatan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR).

Pada triwulan III 2026, LDR perbankan mencapai 95,39 persen, meningkat dibandingkan triwulan II 2026 sebesar 83,82 persen.

Peningkatan rasio tersebut menggambarkan semakin besarnya porsi dana yang disalurkan menjadi kredit dibandingkan dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan.

Ke depan, Bank Indonesia Balikpapan akan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan pemerintah daerah, mitra strategis, serta perbankan untuk mendorong intermediasi yang optimal, inklusif, dan berkualitas.

Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat pembiayaan sektor riil, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperluas penyerapan tenaga kerja sehingga pertumbuhan ekonomi daerah dapat berlangsung secara lebih inklusif dan berkelanjutan.

Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang longgar guna mendorong peningkatan kredit dan pembiayaan ke sektor riil, dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. (Shin/**)

Loading