
Faktanusa.com, Samarinda — Perjalanan Syafruddin Pernyata di dunia jurnalistik tidak bermula dari ruang redaksi. Jejak panjang itu justru berawal dari bangku Pendidikan Guru Agama (PGA), ketika keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi semakin kuat.
Kisah tersebut kembali ia ceritakan saat ditemui di sela-sela kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Kalimantan Timur, Rabu (9/9/2026).
Kala itu, Syafruddin melihat gelar Bachelor of Arts (BA) yang disandang guru-gurunya sebagai sesuatu yang istimewa. Keinginan memperoleh pendidikan lebih tinggi kemudian membuatnya berpikir untuk tidak langsung menjadi guru agama setelah menyelesaikan pendidikan di PGA.
“Saya waktu itu melihat guru-guru saya yang memiliki gelar BA itu terasa istimewa. Saya ingin kuliah,” kenang Syafruddin
Keinginan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Ia menyadari jika menerima penempatan sebagai guru, terlebih apabila ditempatkan di daerah, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bisa semakin sulit.
“Saya khawatir kalau saya menjadi guru dan ditempatkan di daerah, nanti kesempatan untuk kuliah semakin sulit,” tuturnya.
Pilihan itulah yang kemudian mempertemukannya dengan dunia tulis-menulis. Sejak sekolah, Syafruddin memang sudah memiliki ketertarikan terhadap kegiatan menulis.
Kesempatan penting datang pada era 1970-an ketika ia mengikuti lomba menulis puisi. Salah seorang juri yang juga merupakan pimpinan surat kabar mingguan Sampe melihat kemampuan Syafruddin dalam menulis.
Pertemuan tersebut kemudian menjadi titik balik.
Sang juri mengetahui bahwa Syarifuddin memiliki keinginan untuk kuliah, tetapi terbentur persoalan biaya. Ia kemudian menawarkan bantuan biaya masuk perguruan tinggi dengan syarat Syafruddin bekerja sama dengannya.
“Salah seorang juri melihat potensi saya. Ketika dia tahu saya ingin kuliah tetapi terkendala biaya, kemudian menawarkan bantuan biaya masuk perguruan tinggi dengan syarat saya bekerja sama dengannya,” ujar Syafruddin.
Dari kesempatan tersebut, pintu dunia jurnalistik mulai terbuka.
Syafruddin kemudian menjalani profesi sebagai wartawan. Sekitar 1980 ia menjadi koresponden Harian Angkatan Bersenjata. Pada masa itu, aktivitas jurnalistik menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Harian Angkatan Bersenjata ini akhirnya berhenti terbit saat era reformasi tahun 1998.
Ia juga sempat membantu Kaltim Post ketika media tersebut kekurangan tenaga wartawan.
Namun, menjadi wartawan tidak membuat Syafruddin berhenti belajar. Di tengah kesibukannya menulis berita dan menjalankan tugas jurnalistik, ia terus mengembangkan pendidikan dan kemampuan akademiknya.
Pada 1985, ia memasuki dunia perguruan tinggi sebagai dosen. Perjalanan pendidikan kemudian terus dilanjutkan. Ia pun menjalani dua aktivitas sekaligus, yakni mengajar dan tetap berkarya melalui dunia jurnalistik.
“Dari dunia menulis itu kemudian perjalanan saya berkembang. Saya menjadi wartawan, kemudian menjadi dosen, tetapi tetap berkarya di dunia jurnalistik,” katanya.
Perjalanan kembali berubah ketika memasuki 2001. Syafruddin ditarik ke lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan dipercaya menjadi Kepala Biro Humas.
Babak baru tersebut mempertemukannya dengan dunia birokrasi sekaligus membawa pengalaman jurnalistiknya ke lingkungan pemerintahan.
Pada masa itu, dunia pers Indonesia juga sedang mengalami perubahan besar. Pembubaran Departemen Penerangan pada era Presiden Abdurrahman Wahid membuka ruang lebih luas bagi perkembangan kebebasan pers.
Di Kalimantan Timur, perubahan tersebut ikut mendorong pertumbuhan berbagai media baru. Puluhan tabloid dan koran lokal bermunculan.
Syarifuddin berada di tengah perubahan tersebut. Ia pernah merasakan dinamika sebagai wartawan, memahami dunia akademik sebagai dosen, sekaligus menjalani birokrasi sebagai pejabat pemerintah.
Pengalaman berada di beberapa lingkungan tersebut menurutnya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Yang terpenting adalah menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan.
“Saya pernah berada di lingkungan pers, kampus dan birokrasi. Bekerja di dua lingkungan berbeda bukan persoalan selama tidak terjadi konflik kepentingan,” ujarnya.
Menurut dia, pengalaman tersebut justru memberikan perspektif yang lebih luas dalam melihat hubungan antara media dan pemerintahan.
Sebagai mantan wartawan, ia memahami bagaimana media bekerja dalam mencari informasi dan menyampaikan fakta kepada masyarakat. Sementara pengalaman di pemerintahan membuatnya mengetahui bagaimana birokrasi berhadapan dengan media dan publik.
“Pengalaman itu justru memperkaya cara pandang saya dalam melihat dunia jurnalistik dan pemerintahan,” katanya.
Perjalanan Syafruddin di dunia jurnalistik juga tidak hanya berlangsung melalui profesi. Ia pernah aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam beberapa periode. Syafruddin Pernyata juga pernah menjabat sebagai Sekretaris PWI Kaltim selama dua periode di bawah kepemimpinan HM. Fuad Arieph.
Keterlibatannya dalam organisasi kewartawanan tersebut semakin memperkuat hubungan panjangnya dengan dunia pers.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Syafruddin melihat kembali perjalanan tersebut sebagai rangkaian yang saling berkaitan.
Sebuah keinginan untuk kuliah membawanya mencari jalan melalui dunia tulis-menulis. Kemampuan menulis kemudian mempertemukannya dengan jurnalistik. Dari jurnalistik, perjalanan berkembang ke dunia akademik dan akhirnya birokrasi.
“Kalau melihat perjalanan saya, semuanya seperti saling terhubung. Berawal dari keinginan untuk kuliah, kemudian masuk ke dunia menulis, menjadi wartawan, dosen dan akhirnya birokrat,” ucapnya.
Kisah itu menjadi menarik karena perjalanan seorang jurnalis ternyata tidak selalu dimulai dari ruang redaksi. Dalam kasus Syafruddin, sebuah lomba puisi justru menjadi pintu awal yang mengantarkannya pada dunia jurnalistik.
Dari sebuah kesempatan kecil, terbuka jalan yang panjang.
Dunia tulis-menulis yang awalnya menjadi jalan untuk mencari biaya pendidikan kemudian berkembang menjadi profesi, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Pengalaman tersebut pula yang membuat Syafruddin tetap melihat jurnalistik sebagai bagian penting dalam perjalanan dirinya.
Baginya, menulis bukan sekadar aktivitas menghasilkan karya. Menulis juga menjadi cara untuk terus belajar, memahami persoalan dan berinteraksi dengan berbagai lapisan kehidupan.
“Saya melihat dunia jurnalistik sebagai bagian penting dari perjalanan hidup saya,” katanya.
Perjalanan panjang itu kini menjadi cerita yang layak dikenang, terutama di tengah perubahan dunia media yang terus bergerak.
Dari wartawan hingga birokrat, Syafruddin pernah berada di dua sisi yang berbeda. Namun, benang merahnya tetap sama: tulisan.
Sebab, jauh sebelum menjadi birokrat dan dosen, perjalanan itu bermula dari seorang anak PGA yang ingin kuliah dan menemukan jalannya melalui pena.
Dari pena itulah, perjalanan panjang Syafruddin Pernyata dimulai.
Penulis : Shinta Setyana
![]()

