
Faktanusa.com, Balikpapan — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Balikpapan terus mengembangkan pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui berbagai kegiatan produktif. Salah satunya dengan mengolah limbah kayu menjadi produk mebel dan kerajinan yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Program tersebut dijalankan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pengayoman Lapas Kelas IIA Balikpapan. Bahkan, hasil kreativitas warga binaan dalam mengolah limbah kayu berhasil meraih Juara 1 Kategori Lomba Inovasi Produk pada rangkaian Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 Kota Balikpapan.
Kepala Lapas Kelas IIA Balikpapan, Andri Lesmono, mengatakan prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan yang diberikan kepada warga binaan dapat menghasilkan karya yang kreatif dan bermanfaat.
“Alhamdulillah kemarin kami memperoleh peringkat satu dalam hal inovasi produk yang dilaksanakan oleh PKBM Pengayoman Lapas Kelas IIA Balikpapan,” kata Andri saat ditemui usai senam bersama warga binaan, Jumat (11/9/2026).
Menurut Andri, produk yang dihasilkan warga binaan memanfaatkan limbah kayu, termasuk palet, yang diperoleh melalui dukungan sejumlah pihak.
“Kami memanfaatkan limbah-limbah dari Pertamina dan PLN, khususnya limbah kayu, dan kami olah di sini untuk menjadi barang-barang yang bermanfaat,” ujarnya.
Dari bahan baku tersebut, warga binaan mengolahnya menjadi berbagai produk. Tidak hanya meja dan kursi, hasil pembinaan juga mencakup partisi, kitchen set, tempat tidur anak hingga berbagai jenis kerajinan tangan.
Program tersebut sekaligus menjadi sarana bagi warga binaan untuk mempelajari keterampilan yang dapat dikembangkan sebagai bekal setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Andri menyebut saat ini terdapat sekitar 15 warga binaan yang aktif mengikuti kegiatan keterampilan mebel tersebut. Untuk memastikan keberlanjutan program, pihak lapas juga menyiapkan warga binaan yang menjalani proses magang.
“Yang aktif ada sekitar 15 orang dan ada juga yang magang agar terus regenerasi. Ada 10 orang, jadi totalnya saat ini 25 orang,” jelasnya.

Menurutnya, regenerasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan program. Dengan adanya peserta magang, keterampilan yang telah dikembangkan tidak berhenti pada satu kelompok warga binaan.
Selain untuk pembinaan, hasil karya tersebut juga mulai mendapat permintaan dari masyarakat. Lapas Kelas IIA Balikpapan membuka kesempatan bagi pihak luar yang ingin memesan produk hasil karya warga binaan.
Andri mengakui pemasaran produk tersebut saat ini masih terbatas. Namun, permintaan dari sejumlah pihak mulai menunjukkan adanya peluang agar hasil karya warga binaan dapat dikenal lebih luas.
“Kami sementara ini untuk pemasaran mungkin masih terbatas. Kami juga membuat meja, kursi, partisi, kemudian kitchen set, tempat tidur anak, dan lain-lain,” katanya.
Ia mengatakan harga produk yang dihasilkan cukup beragam, menyesuaikan jenis, ukuran, desain dan tingkat pengerjaannya. Selain produk mebel, limbah palet juga dapat dikembangkan menjadi berbagai kerajinan tangan.
Meski demikian, pengembangan keterampilan mebel di Lapas Kelas IIA Balikpapan masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.
Andri berharap semakin banyak pihak maupun pemangku kepentingan yang ikut terlibat dalam pembinaan warga binaan, terutama dalam pengembangan keterampilan produktif.
“Tentunya kami masih banyak kendala. Kami mengajak stakeholder atau pihak-pihak lain ikut terlibat dalam membina warga binaan kami karena sarana dan prasarana yang kami miliki untuk keterampilan mebel ini juga masih terbatas,” ungkapnya.
Meski fasilitas masih terbatas, persoalan bahan baku sejauh ini cukup terbantu berkat dukungan dari perusahaan.
“Kalau untuk bahan baku, alhamdulillah kami disupport oleh PLN dan Pertamina Balikpapan,” tutur Andri.
Ia berharap dukungan tersebut dapat terus berjalan sehingga kegiatan pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIA Balikpapan semakin berkembang.
Bagi Andri, pembinaan warga binaan tidak berhenti pada aktivitas selama menjalani masa pidana. Keterampilan yang diberikan diharapkan menjadi modal ketika mereka kembali ke masyarakat.
“Pembinaan kemandirian mampu melahirkan karya-karya kreatif dan inovatif. Kami akan terus mendorong warga binaan untuk mengembangkan keterampilan dan menghasilkan produk yang memiliki nilai manfaat serta daya saing,” ujar Andri dalam kesempatan sebelumnya.
Karena itu, pemanfaatan limbah kayu menjadi produk mebel bukan sekadar aktivitas kerja di dalam lapas. Program tersebut menjadi bagian dari proses membangun kemandirian warga binaan melalui keterampilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Dari kayu bekas yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, warga binaan Lapas Kelas IIA Balikpapan belajar menciptakan sesuatu yang memiliki nilai guna. Di situlah pembinaan kemandirian diharapkan menjadi bekal nyata bagi mereka untuk menata kembali kehidupan setelah bebas. (Shin/**)
![]()

