Faktanusa.com, Balikpapan – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan mencatatkan capaian positif dalam perluasan pasar nasional dan internasional. Melalui partisipasi pada Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 dan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 tahun 2026, UMKM binaan berhasil menghimpun komitmen transaksi ekspor dengan nilai lebih dari Rp9 miliar.

Capaian tersebut berasal dari 14 Letter of Intent (LOI) senilai Rp9,10 miliar dan tiga Purchase Order (PO) senilai Rp2,75 juta. Selain itu, UMKM juga membukukan penjualan langsung selama kedua pameran berlangsung pada 14–18 Oktober 2026.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan bahwa perluasan akses pasar menjadi bagian penting dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan inklusif.

Menurutnya, pengembangan UMKM tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga pendampingan, promosi, serta penguatan jejaring bisnis untuk menjangkau pasar domestik dan internasional.

“Perluasan akses pasar menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing UMKM daerah. Melalui keterlibatan dalam pameran berskala nasional dan internasional, UMKM memperoleh kesempatan memperkenalkan produk unggulan, menjalin komunikasi dengan calon pembeli, serta membuka peluang kerja sama bisnis,” demikian semangat pengembangan UMKM yang dijalankan KPwBI Balikpapan.

Pada ISEF 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), BI Balikpapan mendorong partisipasi empat UMKM binaan dan mitra dari sektor fesyen serta makanan dan minuman olahan. Sementara itu, tujuh UMKM mengikuti TEI 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Dari sisi penjualan langsung, peserta ISEF membukukan transaksi Rp80,54 juta. Sementara peserta TEI mencatatkan penjualan Rp13,50 juta, terutama dari pembelian sampel produk oleh calon pembeli internasional.

Di ISEF 2026, dua UMKM fesyen binaan BI Balikpapan, HHarum dan Rumah Ampiek, mendapat kesempatan menampilkan koleksi terbaik dalam perhelatan IN2MOTIONFEST dan Jakarta Muslim Fashion Week. HHarum mengangkat perpaduan unsur tradisional dan modern melalui batik, kain shibori, tenun khas daerah, serta sulaman yang terinspirasi kekayaan budaya Kalimantan Timur.

Adapun Rumah Ampiek mengembangkan batik sebagai identitas budaya sekaligus bagian dari gaya hidup melalui desain modern tanpa meninggalkan nilai tradisi.

Produk UMKM lainnya juga memperoleh respons positif melalui stan pameran. Rumah Ampiek mencatat penjualan Rp43,11 juta, HHarum Rp22,99 juta, Kampoeng Timoer Rp9,67 juta, dan Bungas Wedang Dayak Rp4,77 juta.

Peluang ekspor turut terbuka melalui kegiatan business matching. Bungas Wedang Dayak memperoleh dua LOI dari buyer Belanda dan Australia dengan total nilai Rp739,84 juta, serta satu PO dari Australia senilai Rp1,2 juta. Sementara HHarum menjajaki kerja sama dengan calon mitra dagang dari Tunisia dan Filipina.

Di TEI 2026, tujuh UMKM yang terlibat meliputi Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM), Bonles Food, Amplang Ikan Asik, Mantau Fya, Salakilo, Gunaco, dan Fixty.

Dari rangkaian promosi dan penjajakan bisnis tersebut, UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan menghimpun 12 LOI dari delapan buyer internasional dengan perkiraan nilai transaksi Rp8,36 miliar atau setara US$474.931.

Libya menjadi negara tujuan dengan nilai LOI terbesar, yakni sekitar Rp6,68 miliar atau 79,9 persen dari total nilai transaksi yang dihimpun di TEI. Selanjutnya, transaksi berasal dari Vietnam sebesar Rp876,13 juta, Tiongkok Rp394,96 juta, Australia Rp256,51 juta, dan Korea Selatan Rp154,88 juta.

Bonles Food mencatatkan nilai LOI terbesar di antara peserta TEI, yakni Rp2,14 miliar. Sementara KIM memperoleh empat LOI dengan total nilai Rp805,49 juta, menjadi UMKM dengan jumlah LOI terbanyak.

Ke depan, BI Balikpapan akan memperkuat pendampingan dan koordinasi dengan UMKM serta calon pembeli untuk mendorong realisasi komitmen bisnis tersebut. Upaya itu meliputi pemantauan perkembangan LOI dan PO, komunikasi lanjutan dengan buyer, pengiriman sampel produk, serta penyusunan penawaran harga.

Kesiapan legalitas usaha, sertifikasi ekspor, kualitas kemasan, pelabelan, dan kesinambungan produksi juga menjadi perhatian agar UMKM mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Melalui penguatan pendampingan dan sinergi dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait, BI Balikpapan berharap peluang transaksi yang telah terbuka dapat berlanjut menjadi kerja sama nyata. Dengan demikian, UMKM daerah diharapkan semakin berdaya saing, memperluas pasar ekspor, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. (Shin/**)

Loading