
Faktanusa.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mempercepat upaya penemuan kasus tuberkulosis (TBC) melalui skrining dan tracking terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah dengan temuan penderita TBC positif.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan sekaligus menemukan kasus TBC yang kemungkinan belum terdeteksi. Pemeriksaan diprioritaskan pada lingkungan yang memiliki riwayat kasus positif sehingga potensi penularan dapat segera diantisipasi.
Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan skrining menjadi salah satu langkah penting dalam pengendalian TBC. Masyarakat yang berada di sekitar lokasi ditemukannya penderita positif menjadi sasaran utama penelusuran oleh petugas kesehatan.
Menurutnya, Dinkes Kutim telah menetapkan target pemeriksaan yang harus diselesaikan hingga akhir 2026. Setiap lokasi yang menjadi sasaran tracking akan dilakukan skrining terhadap 100 orang.
“Fokusnya nanti kita harus melakukan skrining untuk penderita TBC masing-masing 100 orang. Targetnya sampai Desember sudah harus selesai untuk tracking TBC ini,” ujar Yuwana, Minggu (30/8/2026).
Yuwana menjelaskan, kegiatan tracking tidak dilakukan secara merata terhadap seluruh masyarakat tanpa mempertimbangkan tingkat risiko. Petugas akan memprioritaskan wilayah yang sebelumnya telah ditemukan masyarakat dengan hasil pemeriksaan positif TBC.
Pendekatan berbasis lokasi tersebut dinilai lebih efektif dalam menemukan potensi kasus baru. Sebab, orang yang tinggal atau beraktivitas di sekitar penderita memiliki kemungkinan terpapar apabila tidak dilakukan deteksi secara dini.
Melalui skrining, petugas dapat mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Jika ditemukan indikasi atau hasil pemeriksaan yang mengarah pada TBC, penanganan dapat segera dilakukan sesuai prosedur kesehatan.
“ Kita terutama melakukan tracking di lokasi-lokasi yang memang di situ sudah ditemukan penderita positif TBC,” jelasnya.
Dinkes Kutim juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pemeriksaan kesehatan, terutama warga yang tinggal di sekitar lingkungan dengan riwayat kasus TBC.
Menurut Yuwana, keberhasilan pengendalian TBC tidak hanya bergantung pada petugas kesehatan. Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting, khususnya dalam mengikuti skrining ketika menjadi sasaran tracking.
Warga diharapkan tidak merasa takut ataupun ragu untuk menjalani pemeriksaan. Deteksi lebih awal justru dapat membantu seseorang memperoleh penanganan dengan cepat sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang-orang di sekitarnya.
Selain melakukan skrining, Dinkes Kutim melalui fasilitas pelayanan kesehatan juga terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi kesehatan. Masyarakat diimbau tidak menunggu hingga keluhan semakin berat sebelum memeriksakan diri.
Penemuan kasus sedini mungkin menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian TBC. Semakin cepat penderita diketahui dan mendapatkan pengobatan, semakin cepat pula langkah pencegahan penularan dapat dilakukan terhadap keluarga maupun lingkungan terdekat.
Program tracking juga menjadi bagian dari penguatan pemantauan kasus TBC di Kabupaten Kutai Timur. Data yang diperoleh dari kegiatan skrining akan membantu petugas memetakan kondisi di lapangan dan menentukan tindak lanjut terhadap masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan tambahan.
Dinkes Kutim menargetkan seluruh proses tracking yang telah direncanakan dapat diselesaikan paling lambat Desember 2026. Target tersebut diharapkan mampu memperluas cakupan penemuan kasus sekaligus memperkuat upaya pengendalian TBC di tingkat masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung program tersebut. Selain mengikuti skrining, warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan yang mengarah pada TBC atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita.
Dengan memperkuat skrining berbasis wilayah, penelusuran kasus, keterlibatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan, Dinkes Kutim berupaya memastikan kasus TBC dapat ditemukan lebih cepat dan ditangani secara tepat.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan angka penemuan kasus, tetapi juga mampu menekan potensi penularan TBC sehingga kesehatan masyarakat Kutai Timur dapat terus terjaga. (ADV/Kominfo Kutim)
![]()

