
Faktanusa.com, KUTAI KARTANEGARA – Peringatan Peristiwa Merah Putih ke-80 di Kecamatan Sanga-Sanga pada 27 Januari 2027 mendatang didorong menghadirkan konsep kegiatan yang lebih inovatif. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Sunggono, menilai momentum bersejarah tersebut perlu dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bukan sekadar mengulang agenda seremonial setiap tahun.
Dorongan disampaikan Sunggono saat menerima audiensi jajaran Kecamatan Sanga-Sanga yang membahas persiapan peringatan tersebut. Audiensi menghadirkan seluruh unsur pimpinan Kecamatan Sanga-Sanga untuk membahas perayaan yang sarat makna bagi warga Kukar utamanya Sanga-Sanga itu.
“Tadi hadir lengkap, mulai Camat, Sekcam, sejumlah kepala seksi, dan para lurah hadir memaparkan rancangan kegiatan beserta usulan pembiayaan yang mesti disiapkan,” ungkap Sunggono pasca audiensi, Senin (19/10/2026)
Sunggono menyebut, dari paparan awal, konsep yang diajukan Pemerintah Kecamatan Sanga-Sanga masih mengacu pada pola kegiatan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian Sekda karena peringatan ke-80 dinilai dapat menjadi kesempatan untuk menghadirkan pendekatan yang lebih kreatif sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat.
“Kalau melihat konsep yang disampaikan tadi, secara umum belum ada hal yang benar-benar berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Saya berharap teman-teman di kecamatan bisa memikirkan format baru sehingga peringatan ini tidak hanya berlangsung rutin, tetapi juga membawa dampak yang lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi tidak harus menghilangkan kegiatan yang selama ini menjadi identitas peringatan. Rangkaian acara yang telah dikenal masyarakat tetap dapat dipertahankan sepanjang relevan, sementara pengembangan program baru perlu diarahkan untuk memperluas manfaat kegiatan bagi warga Sanga-Sanga.
Ia juga menyoroti potensi yang dimiliki jajaran pemerintahan setempat. Camat, sekretaris kecamatan, kepala seksi, hingga lurah yang terlibat dalam audiensi merupakan putra daerah asli Sanga-Sanga. Kedekatan mereka dengan lingkungan dan masyarakat setempat diharapkan menjadi modal untuk merancang kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan wilayah.
“Saya justru menantang teman-teman di Sanga-Sanga untuk menunjukkan kreativitasnya. Mereka memahami daerahnya sendiri, mengetahui karakter masyarakatnya, dan seharusnya bisa merumuskan kegiatan yang lebih dekat dengan kebutuhan warga,” katanya.
Dari sisi pembiayaan, panitia mengusulkan anggaran sekitar Rp630 juta untuk mendukung rangkaian peringatan. Namun, angka tersebut masih berupa usulan yang perlu ditelaah berdasarkan rincian program, kebutuhan teknis, serta mekanisme penganggaran yang berlaku. Besarnya anggaran diharapkan sejalan dengan kualitas pelaksanaan dan manfaat yang dihasilkan.
Sunggono menyebut dukungan dari organisasi perangkat daerah (OPD) telah menjadi bagian dari pembahasan. Karena itu, peluang menghadirkan kegiatan baru perlu segera diterjemahkan ke dalam rancangan yang jelas agar dukungan tersebut dapat diarahkan pada program yang benar-benar dibutuhkan.
“Anggaran tentu harus dibicarakan berdasarkan kebutuhan kegiatan. Yang tidak kalah penting, kita ingin setiap kegiatan yang direncanakan memiliki tujuan yang jelas. Jangan sampai energi dan anggaran yang dikeluarkan cukup besar, tetapi manfaat yang dirasakan masyarakat justru belum maksimal,” tegasnya.
Ia berharap panitia dapat kembali mematangkan konsep sebelum menetapkan rangkaian kegiatan secara lebih terperinci. Dengan persiapan yang lebih terarah, peringatan ke-80 diharapkan tidak hanya menjadi penghormatan terhadap sejarah perjuangan, tetapi juga momentum untuk memperkuat partisipasi dan kebanggaan masyarakat Sanga-Sanga terhadap daerahnya.
“Kita tidak ingin agenda ini tidak memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat khususnya warga masyarakat Sanga-Sanga,” pungkasnya. (Adv)
![]()

