Faktanusa.com, Balikpapan – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Balikpapan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pelayanan kemanusiaan, mulai dari penyediaan darah, pertolongan pertama, penanganan kebencanaan hingga membantu masyarakat menghadapi ancaman kekurangan air bersih.

Hal tersebut disampaikan Ketua PMI Kota Balikpapan Zulkifli usai mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 PMI yang digelar di halaman Kantor PMI Kota Balikpapan, Kamis (17/9/2026).

Zulkifli mengatakan, peringatan HUT PMI tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi seluruh jajaran PMI untuk melihat kembali perjalanan panjang organisasi sekaligus mengevaluasi berbagai pelayanan kemanusiaan yang selama ini diberikan kepada masyarakat.

Menurutnya, semangat PMI sejak awal berdirinya tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemanusiaan dan perjalanan bangsa Indonesia.

“Jadi peringatan ini bukan sekadar seremonial. Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat perjalanan kita yang panjang sekaligus melakukan refleksi atas apa yang sudah kita lakukan dalam menjalankan aktivitas kemanusiaan,” ujar Zulkifli.

Ia menjelaskan, PMI sejak awal hadir dengan substansi utama memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk korban konflik dan peperangan. Secara organisasi, PMI kemudian resmi berdiri setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

“Kalau gampang mengingatnya, 17 Agustus kita memperingati kemerdekaan, satu bulan berikutnya September adalah hari PMI. Jadi perjuangan PMI pada hakikatnya juga bersama-sama dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia,” jelasnya.

Dalam momentum HUT ke-81 tersebut, Zulkifli menekankan salah satu pekerjaan penting yang harus terus diperkuat adalah pelayanan darah.

Ia menyebut kebutuhan darah di Balikpapan harus dipenuhi secara berkelanjutan, terlebih terdapat masyarakat dengan kebutuhan transfusi rutin yang sangat bergantung terhadap ketersediaan darah.

Salah satunya adalah penyandang thalassemia. Berdasarkan data yang diterima PMI Kota Balikpapan, terdapat sekitar 109 penyandang thalassemia di Balikpapan yang secara rutin membutuhkan transfusi darah.

“Di Balikpapan ada sekitar 109 penyandang thalassemia yang rutin mendonorkan? Maksudnya rutin membutuhkan darah. Mereka ada yang melakukan transfusi sekitar dua minggu sekali. Bahkan ada yang rutin dua kali dalam seminggu dan sudah berlangsung sekitar 13 tahun,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, kata Zulkifli, menunjukkan pentingnya keberlanjutan ketersediaan darah sekaligus menjaga kualitas darah yang diberikan kepada masyarakat.

Ia menegaskan, pelayanan darah tidak hanya berbicara mengenai jumlah stok, tetapi juga menyangkut kualitas karena berkaitan langsung dengan keselamatan penerima.

“Ini perjuangan yang harus kita hargai dan kita harus menyediakan darah secara berkelanjutan. Kualitas juga harus diperhatikan, jangan sampai ada persoalan kualitas, karena sedikit saja salah kualitasnya, kita berhadapan dengan persoalan seseorang,” tegasnya.

Selain pelayanan darah, PMI Balikpapan juga mulai mengarahkan perhatian pada potensi bencana yang dapat terjadi selama musim kemarau.

Zulkifli meminta jajaran PMI, khususnya bidang kebencanaan, berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melihat peran yang dapat dilakukan PMI dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Karena sekarang kita sedang menghadapi persoalan karhutla, saya minta teman-teman di bidang kebencanaan berkoordinasi dengan BPBD. Kita lihat fungsi kita dan peran apa yang bisa kita lakukan dalam penanganan karhutla,” katanya.

Selain karhutla, PMI juga mengantisipasi ancaman kekurangan air bersih yang berpotensi muncul apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Zulkifli menyebut berdasarkan informasi cuaca yang diterima, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir November, sehingga masyarakat dan relawan diminta mulai melakukan persiapan sejak dini.

“Persoalan kita sekarang, selain karhutla, adalah ancaman kekurangan air bersih. Teman-teman relawan harus memperhatikan hal ini dan sudah harus siap-siap dari sekarang,” ujarnya.

Menurut dia, penanganan kekurangan air bersih dapat dilakukan melalui distribusi air menggunakan mobil tangki maupun pemanfaatan sumber air yang tersedia di masyarakat untuk kemudian dikelola dan didistribusikan kepada warga yang membutuhkan.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kondisi kekurangan air bersih menjadi semakin parah seperti yang pernah terjadi pada musim kemarau sebelumnya.

Zulkifli juga mengungkapkan dampak kekeringan mulai dirasakan sejumlah kelompok masyarakat. Tercatat sekitar 91 kelompok tani mengalami kekeringan, sementara delapan pembudidaya ikan juga terdampak karena keterbatasan air.

“Ini juga menjadi perhatian kita. Karena itu relawan harus mulai melihat kebutuhan di lapangan. Kalau kondisi semakin besar, kita harus bisa mengambil peran untuk membantu masyarakat,” tuturnya.

Memasuki usia ke-81 tahun, Zulkifli menegaskan PMI akan terus menjaga perannya sebagai organisasi kemanusiaan yang hadir dalam berbagai situasi.

Pelayanan donor darah, pertolongan pertama, penanganan bencana, pelayanan kesehatan, hingga berbagai aksi kemanusiaan lainnya menjadi bagian dari tugas PMI yang harus terus diperkuat.

Ia menilai pengalaman PMI dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk keterlibatan dalam penanganan pandemi COVID-19, menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi dalam membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Karena itu, tema HUT ke-81 PMI, “Peduli Bergerak Bersama”, menurut Zulkifli harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.

“Peduli berarti membuka hati, bergerak berarti tidak berhenti pada kata-kata. Dan bergerak bersama berarti kita tidak bekerja sendiri, tetapi bersama masyarakat dan seluruh pihak untuk memberikan pelayanan kemanusiaan,” pungkasnya. (Shin/**)

Loading