Faktanusa.com, Berau – Menghadapi musim kemarau yang semakin panjang, Pemerintah Kabupaten Berau bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan masyarakat menggelar Salat Istisqa di Lapangan Graha Pemuda, Jalan Mangga I, Kelurahan Tanjung Redeb, Kecamatan Tanjung Redeb, Minggu (30/8/2026) pagi.

Sekitar 500 jamaah dari berbagai unsur mengikuti salat sunah tersebut dengan penuh kekhusyukan. Kegiatan menjadi ikhtiar bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar Kabupaten Berau segera mendapatkan curah hujan yang cukup dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Sejak pukul 08.00 WITA, Lapangan Graha Pemuda mulai dipadati jamaah. Mereka berasal dari unsur Pemerintah Kabupaten Berau, TNI-Polri, pelajar, tokoh agama, hingga masyarakat umum.

Salat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan Ustaz Burhanuddin Harahap bertindak sebagai imam. Sementara khotbah disampaikan Ustaz Jamiruddin.

Pelaksanaan Salat Istisqa tersebut merupakan tindak lanjut Surat Undangan Bupati Berau Nomor 400/276/Kesra/VIII/2026. Selain menjadi sarana ibadah, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan di tengah kemarau.

Sejumlah pejabat turut hadir dan mengikuti salat bersama masyarakat. Di antaranya Bupati Berau Sri Juniarsih Mas, Wakil Bupati Berau Gamalis, Dandim 0902/BRU Letkol Inf Muhammad Faisal Idris, Sekda Berau Muhammad Said, Ketua MUI Berau Syarifuddin Israil, Kepala Kemenag Berau Kabul Budino, Kapolsek Tanjung Redeb AKP Amin Maulani, serta jajaran pejabat Pemkab Berau dan perwira Polres Berau.

Kapolres Berau AKBP Ridho Tri Putranto mengatakan, pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh agama, dan masyarakat dalam menghadapi dampak musim kemarau.

Menurutnya, kondisi cuaca yang panas dan kering tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air bersih, tetapi juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, upaya menghadapi kemarau harus dilakukan secara menyeluruh. Selain meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat langkah pencegahan karhutla, masyarakat juga diajak melakukan ikhtiar spiritual melalui doa bersama.

“Kondisi cuaca di Kabupaten Berau saat ini sangat panas dan kering, yang tidak hanya berdampak pada berkurangnya pasokan air tetapi juga meningkatkan risiko bahaya karhutla. Selain memaksimalkan kesiapsiagaan personel di lapangan dalam pencegahan dan penanggulangan bencana, kita imbangi dengan doa bersama memohon agar Allah SWT melimpahkan berkah berupa hujan yang bermanfaat,” ujar Ridho.

Menurutnya, doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan. Di satu sisi, masyarakat diharapkan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan melakukan introspeksi. Di sisi lain, kewaspadaan terhadap potensi bencana tetap harus ditingkatkan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan Salat Istisqa. Setelah itu, seluruh jamaah melaksanakan salat berjamaah sebelum dilanjutkan dengan khotbah.

Dalam khotbahnya, jamaah diajak meningkatkan keimanan, memperbanyak istighfar, melakukan introspeksi diri, serta memohon ampunan kepada Allah SWT.

Salat Istisqa kemudian ditutup dengan doa bersama. Para jamaah memanjatkan harapan agar hujan segera turun di wilayah Berau sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dan menjaga kondisi lingkungan.

Kemarau yang berkepanjangan membuat kondisi vegetasi dan lahan menjadi semakin kering. Situasi tersebut juga meningkatkan risiko munculnya titik api apabila masyarakat tidak berhati-hati dalam melakukan aktivitas di sekitar kawasan hutan, perkebunan maupun lahan terbuka.

Karena itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Kewaspadaan menjadi penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.

Sinergi antara pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, tokoh agama dan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak musim kemarau. Langkah pencegahan dan kesiapsiagaan di lapangan perlu terus berjalan sembari masyarakat melakukan ikhtiar melalui doa.

Bagi masyarakat Berau, Salat Istisqa menjadi simbol harapan di tengah kondisi kemarau yang mulai memberikan dampak terhadap kehidupan sehari-hari. Ratusan jamaah berkumpul bukan hanya untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga menguatkan kepedulian dan kebersamaan dalam menghadapi kondisi yang terjadi.

Dengan turunnya hujan yang cukup, diharapkan kebutuhan air masyarakat dapat kembali terpenuhi dan risiko kebakaran hutan maupun lahan dapat ditekan. Namun sembari menunggu kondisi tersebut, kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap menjadi tanggung jawab bersama. (**)

Humas Polda Kaltim

Loading