
Faktanusa.com, Balikpapan – Meningkatnya kasus perundungan atau bullying di lingkungan sekolah menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Di tengah ancaman terhadap kesehatan mental pelajar yang semakin kompleks, Kota Balikpapan justru menghadapi krisis tenaga Guru Bimbingan dan Konseling (BK).
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar bagi sekolah dalam memberikan pendampingan kepada siswa, khususnya dalam menangani persoalan emosional, sosial, hingga konflik antarpelajar yang terus berkembang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan, Irfan Taufik, mengungkapkan jumlah guru BK di Balikpapan saat ini masih jauh dari kebutuhan ideal.
Menurutnya, pertumbuhan jumlah sekolah di Balikpapan tidak sebanding dengan ketersediaan tenaga pendamping siswa tersebut. Akibatnya, pelayanan konseling di sejumlah sekolah belum berjalan maksimal.
“Ketersediaan guru BK saat ini memang masih belum memenuhi kebutuhan sekolah-sekolah yang ada di Balikpapan,” ujarnya saat diwawancarai awak media, Rabu (13/6/2026).
Irfan menjelaskan, persoalan tersebut terlihat dalam kegiatan workshop pendidikan yang digelar pada Mei 2026 lalu. Dalam kegiatan itu, hanya sekitar 100 guru BK yang hadir, sementara jumlah sekolah di Balikpapan mencapai ratusan mulai dari jenjang PAUD hingga SMA.
Ketimpangan jumlah tenaga pendamping tersebut membuat beban guru BK semakin besar, terutama dalam menghadapi persoalan siswa yang kini semakin kompleks. Menurut Irfan, guru BK memiliki peran penting bukan hanya dalam menangani pelanggaran disiplin, tetapi juga mendampingi kondisi psikologis dan perkembangan karakter siswa.
“Guru BK bukan sekadar menangani siswa bermasalah, tetapi juga menjadi tempat konsultasi dan pendamping bagi siswa yang menghadapi persoalan pribadi maupun sosial,” katanya.
Ia menilai keberadaan guru BK menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kasus bullying di sekolah. Bentuk perundungan saat ini, lanjut dia, tidak lagi hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga verbal, sosial, hingga cyberbullying melalui media sosial.
Dampak dari perundungan tersebut dinilai sangat serius terhadap kondisi mental pelajar. Korban bullying berisiko mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan kecemasan, stres berkepanjangan, hingga depresi.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa. Karena itu pendampingan psikologis dan sosial melalui guru BK sangat dibutuhkan,” ucapnya.
Menurut Irfan, sekolah tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kesehatan mental peserta didik. Karena itu, keberadaan guru BK dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat.
Ia menambahkan, tantangan dunia pendidikan saat ini semakin berat seiring perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial di kalangan pelajar. Konflik antarsiswa kini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga meluas ke ruang digital yang sulit dipantau secara langsung.
Kondisi tersebut membuat peran guru BK semakin strategis dalam memberikan edukasi, mediasi, serta pendampingan kepada siswa maupun orang tua.
“Persoalan remaja sekarang jauh lebih kompleks. Karena itu sekolah membutuhkan pendampingan yang kuat agar siswa bisa mendapatkan ruang aman untuk bercerita dan mencari solusi,” jelasnya.
Disdikbud Balikpapan berharap ke depan kebutuhan tenaga guru BK dapat terpenuhi secara bertahap sehingga layanan konseling di sekolah bisa berjalan lebih optimal. Pemerintah juga mendorong seluruh sekolah memperkuat pengawasan dan pendidikan karakter guna mencegah terjadinya kasus bullying.
Dengan dukungan tenaga pendamping yang memadai, sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, aman, dan mendukung perkembangan mental peserta didik secara menyeluruh. (Nil/Adv/Diskominfo Balikpapan)
![]()


