
Faktanusa.com, Balikpapan — Pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Balikpapan memilih menjaga stabilitas produksi di tengah kenaikan harga bahan baku kedelai yang masih berfluktuasi. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk memastikan kebutuhan pasar tetap terpenuhi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha di sektor pangan rakyat tersebut.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kota Balikpapan, Heruressany Setia Kesuma, mengatakan bahwa para produsen sejauh ini tidak serta-merta menaikkan harga jual meski menghadapi tekanan biaya produksi. Sebaliknya, pelaku usaha lebih memilih melakukan penyesuaian pada ukuran produk.
“Secara umum harga bahan baku memang naik, dengan kisaran sekitar 1 hingga 5 persen dibandingkan tahun lalu dan bersifat fluktuatif setiap bulan. Namun pelaku usaha berupaya mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau masyarakat,” ujarnya.
Menurut Heruressany, kebijakan tersebut menjadi bentuk adaptasi pelaku usaha terhadap dinamika pasar sekaligus upaya menjaga daya beli masyarakat. Tahu dan tempe sebagai bahan pangan utama dinilai memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat, sehingga kestabilan harga menjadi perhatian bersama.
Ia menjelaskan, kebutuhan kedelai untuk industri tahu dan tempe di Balikpapan saat ini mencapai sekitar 400 hingga 450 ton per bulan. Namun, sebagian besar pasokan tersebut masih bergantung pada impor, terutama dari Amerika Serikat dan beberapa negara lain.
Ketergantungan pada impor ini membuat harga kedelai di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh kondisi global, termasuk nilai tukar rupiah, harga komoditas internasional, serta biaya logistik. Kondisi tersebut menyebabkan harga bahan baku sulit diprediksi dan cenderung berubah dalam waktu singkat.
Dalam situasi tersebut, Heruressany menilai penting bagi pelaku usaha untuk menjaga volume produksi agar tetap stabil. Menurutnya, selama permintaan pasar masih tinggi, kapasitas produksi yang sudah terbentuk sebaiknya dipertahankan.
“Permintaan pasar terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan adanya kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk program MBG yang turut mendorong peningkatan kebutuhan produksi setiap minggunya,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan permintaan ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha. Di satu sisi, pasar yang terus berkembang membuka ruang pertumbuhan usaha, namun di sisi lain pelaku usaha dituntut mampu menjaga konsistensi produksi di tengah tekanan biaya.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Kota Balikpapan terus mendorong penguatan sentra industri tahu-tempe sebagai pusat produksi yang terorganisir. Saat ini terdapat sekitar 100 rumah produksi di dalam sentra, dengan 85 unit telah aktif beroperasi.
Sementara itu, masih terdapat sekitar 15 unit yang belum terisi dan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha baru. Pemerintah melihat peluang ini sebagai upaya memperluas kapasitas produksi sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor industri kecil.
Di luar sentra, tercatat sekitar 12 industri kecil tahu-tempe yang telah terdata. Pemerintah berharap pelaku usaha tersebut dapat bergabung ke dalam sentra guna memperoleh kemudahan akses bahan baku, pembinaan, serta dukungan infrastruktur.
Namun demikian, sebagian pelaku usaha di luar sentra masih menghadapi kendala dalam menjaga konsistensi produksi. Hal ini disebabkan oleh sistem usaha yang masih berbasis pesanan, sehingga volume produksi cenderung tidak stabil.
Heruressany menegaskan bahwa keberadaan sentra industri menjadi solusi dalam menciptakan sistem produksi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dengan bergabung ke dalam sentra, pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan kapasitas serta efisiensi produksi.
Selain itu, distribusi bahan baku melalui koperasi, khususnya Primkopti, juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas usaha. Saat ini, distribusi kedelai dari koperasi diprioritaskan bagi anggota yang berada di dalam sentra.
“Bahan baku dari koperasi hanya diperuntukkan bagi anggota. Ini untuk menjaga keberlangsungan produksi di dalam sentra agar tetap stabil,” ujarnya.
Kebijakan tersebut dinilai penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku bagi pelaku usaha yang telah terorganisir, sekaligus mencegah terjadinya kekurangan pasokan di tingkat produksi.
Ke depan, Pemerintah Kota Balikpapan berharap sinergi antara pelaku usaha, koperasi, dan berbagai program kemitraan dapat terus diperkuat. Dengan kolaborasi yang baik, industri tahu-tempe di daerah ini diharapkan mampu bertahan bahkan berkembang di tengah dinamika harga bahan baku global.
Selain menjaga stabilitas produksi, pelaku usaha juga diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Inovasi dalam pengolahan serta pengemasan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menambah nilai jual produk.
Di tengah tantangan yang ada, komitmen pelaku usaha untuk tetap menjaga harga dan produksi menjadi indikator ketahanan sektor industri kecil di Balikpapan. Dengan dukungan pemerintah dan koperasi, sektor ini diharapkan terus menjadi penopang ekonomi masyarakat sekaligus penyedia pangan yang terjangkau dan berkualitas. (SS/Adv/Diskominfo Balikpapan)
![]()



