
Faktanusa.com, Balikpapan – Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kalimantan Timur terus memperkuat upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda. Tidak lagi mengandalkan metode ceramah konvensional, Ditresnarkoba menghadirkan pendekatan edukatif yang interaktif, komunikatif, dan menyenangkan melalui berbagai permainan (edugame) untuk menanamkan kesadaran bahaya narkoba sejak dini.
Program tersebut digelar dalam kegiatan penyuluhan dan sosialisasi bahaya NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) serta peredaran gelap narkotika kepada 576 siswa baru SMK Negeri 3 Balikpapan pada hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa (14/7/2026), di Aula SMKN 3 Balikpapan.
Kegiatan dipimpin langsung Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Kombes Pol. Romylus Tamtelahitu, S.Sos., S.I.K., M.Krim., sekaligus menjadi narasumber utama. Hadir pula Kepala SMKN 3 Balikpapan H. Sukarni Chandra, S.Pd., M.Pd., Guru Bimbingan Konseling Hj. Dian Merdeka Sari, S.Pd., M.Pd., seluruh guru dan tenaga kependidikan, serta ratusan peserta didik baru.
Berbeda dengan penyuluhan pada umumnya, Romylus mengemas materi secara dinamis agar mudah diterima kalangan remaja. Sejak awal kegiatan, suasana aula dipenuhi semangat ketika seluruh siswa diajak meneriakkan yel-yel bersama.
“Siapa kita?” tanya Romylus.
“Anak Hebat!” jawab ratusan siswa serempak.
“SMK 3?”
“Kebanggaanku!”
“Narkoba?”
“Enggak…!”

Sorak-sorai para siswa semakin meriah saat Romylus mengajak seluruh peserta melakukan tepuk Pramuka sebagai bentuk membangun semangat kebersamaan sebelum memasuki materi inti.
Menurut Romylus, pendekatan seperti ini sengaja dipilih karena karakter generasi muda saat ini lebih mudah menerima pesan melalui komunikasi yang interaktif dibandingkan metode ceramah satu arah.
“Anak-anak sekarang tidak cukup hanya diberi ceramah. Mereka harus diajak berdialog, dilibatkan, bahkan diajak bermain agar pesan yang kita sampaikan benar-benar melekat dalam ingatan mereka. Edukasi harus menyenangkan, tetapi substansinya tetap kuat,” ujar Romylus.
Selama hampir dua jam, para siswa diajak memahami berbagai bentuk ancaman narkoba, mulai dari jenis-jenis narkotika, modus peredaran di lingkungan remaja, hingga dampak penyalahgunaan terhadap kesehatan fisik, mental, maupun masa depan.
Salah satu materi penting yang disampaikan adalah membangun daya tangkal atau imunitas dalam diri pelajar agar berani mengatakan tidak ketika mendapat ajakan mencoba narkoba dari teman sebaya.
Menurut Romylus, sebagian besar remaja yang akhirnya terjerumus narkoba bukan karena niat menjadi pengguna, melainkan diawali rasa penasaran atau pengaruh lingkungan pergaulan.
“Banyak anak muda pertama kali mencoba narkoba bukan karena ingin menjadi pecandu, tetapi karena rasa penasaran atau ajakan teman. Tugas kita adalah menghilangkan rasa penasaran yang keliru itu dengan memberikan pemahaman tentang dampak nyata narkoba terhadap kesehatan, masa depan, bahkan kehidupan keluarga mereka,” katanya.
Dalam penyampaiannya, Romylus juga memperkenalkan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) serta Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai fondasi pembentukan karakter pelajar.
Menurutnya, karakter yang kuat menjadi benteng pertama untuk mencegah penyalahgunaan narkotika.
“Perang melawan narkoba bukan hanya tugas polisi. Benteng pertama ada pada karakter anak itu sendiri. Kalau karakternya kuat, akhlaknya baik, lingkungan sekolah dan keluarganya mendukung, maka peluang mereka terjerumus narkoba akan jauh lebih kecil,” ujarnya.
Agar suasana semakin hidup, Ditresnarkoba menggelar permainan Mitos atau Fakta. Dalam sesi tersebut guru dan siswa diminta menjawab berbagai pertanyaan seputar narkoba.
Pertanyaan yang muncul antara lain mengenai anggapan bahwa narkoba dapat meningkatkan prestasi belajar, membuat tubuh lebih sehat, atau sekadar bisa dicoba sekali tanpa menimbulkan ketergantungan.

Setiap jawaban kemudian dijelaskan secara ilmiah oleh Romylus sehingga para siswa memperoleh pemahaman yang benar.
Suasana semakin meriah ketika memasuki sesi Mystery Balloon Game.
Sebanyak tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga siswa dipanggil secara acak ke depan panggung.
Mereka diminta memilih balon bernomor yang telah disiapkan panitia. Di dalam setiap balon terdapat pertanyaan seputar bahaya narkoba.
Apabila peserta berhasil menjawab dengan benar, balon dipecahkan dan hadiah langsung diberikan.
Tepuk tangan serta sorakan teman-temannya membuat suasana penyuluhan terasa seperti permainan edukatif, namun tetap sarat pesan moral.
Menurut Romylus, metode pembelajaran aktif seperti itu membuat peserta lebih mudah mengingat materi dibanding hanya mendengarkan ceramah.
“Kalau mereka ikut bermain, ikut berpikir, dan ikut menjawab, maka ilmu yang diperoleh akan lebih lama diingat. Harapan kami, ketika suatu saat ada yang menawarkan narkoba, mereka langsung teringat apa yang dipelajari hari ini dan berani menolak,” ungkapnya.
Selain penyuluhan, kegiatan juga dirangkaikan dengan tes urine terhadap para siswa baru.
Langkah tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk kecurigaan kepada peserta didik, melainkan sebagai upaya deteksi dini sekaligus memastikan lingkungan sekolah bebas dari penyalahgunaan narkoba.
Romylus menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan sejak awal sebelum muncul persoalan yang lebih besar.
“Tes urine ini bukan untuk mencari kesalahan siswa. Ini merupakan langkah preventif agar sekolah benar-benar menjadi lingkungan yang aman dan bersih dari narkoba. Pencegahan jauh lebih penting daripada penindakan ketika semuanya sudah terlambat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jaringan peredaran narkoba saat ini semakin menyasar kalangan pelajar melalui berbagai modus, termasuk media sosial dan lingkungan pertemanan.
Karena itu, peran guru dan orang tua sangat penting dalam melakukan pengawasan sekaligus membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.
“Kami berharap guru dan orang tua menjadi mitra utama dalam menjaga anak-anak kita. Kalau ada perubahan perilaku, penurunan prestasi belajar, atau mulai menjauh dari keluarga, segera lakukan pendekatan. Jangan menunggu sampai mereka menjadi korban penyalahgunaan narkoba,” katanya.
Kepala SMKN 3 Balikpapan, H. Sukarni Chandra, mengapresiasi kehadiran Ditresnarkoba Polda Kaltim yang memberikan pembekalan kepada peserta didik baru melalui metode yang kreatif dan mudah dipahami.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan karakter siswa sejak awal memasuki lingkungan sekolah.
“Kami sangat berterima kasih kepada Ditresnarkoba Polda Kaltim. Edukasi seperti ini sangat dibutuhkan karena ancaman narkoba terhadap generasi muda semakin nyata. Dengan metode yang interaktif, anak-anak jauh lebih antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Ditresnarkoba Polda Kaltim berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memahami bahaya narkoba, tetapi juga memiliki keberanian untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan narkotika.
Pendekatan edukatif yang menggabungkan penyuluhan, permainan interaktif, pembentukan karakter, hingga tes urine tersebut menjadi bagian dari strategi preventif Polda Kaltim dalam menyelamatkan generasi emas Indonesia dari ancaman narkoba.
Romylus menegaskan, perang melawan narkoba harus dimulai dari sekolah sebagai tempat lahirnya generasi penerus bangsa.
“Kami ingin setiap anak yang keluar dari ruangan ini membawa satu komitmen, yaitu mengatakan tidak pada narkoba. Mereka adalah calon pemimpin masa depan. Jangan biarkan cita-cita mereka hancur hanya karena rasa penasaran sesaat terhadap narkoba,” pungkasnya.
Penulis : Shinta Setyana
![]()



