
Faktanusa.com, Nasional – Rangkaian Hari Doa Nasional (HDN) 2026 yang berlangsung selama empat hari di Provinsi Kalimantan Timur resmi ditutup di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Minggu (5/7/2026). Penutupan dipusatkan di kawasan Miniatur Hutan Hujan Tropis (MHT) dengan kegiatan penanaman pohon sebagai simbol komitmen menjaga persatuan bangsa sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Kegiatan penutupan dihadiri Ketua Umum Panitia Hari Doa Nasional 2026 Fanny Jossy Kusumo, jajaran pengurus Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI), pimpinan delapan aras gereja nasional, tokoh-tokoh gereja, serta ratusan peserta Hari Doa Nasional yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Turut hadir pula perwakilan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) yang memberikan penjelasan mengenai pembangunan kawasan ibu kota baru.
Selain penanaman pohon, para peserta mengikuti kunjungan ke Istana Negara Nusantara dan Taman Kebangsaan sebagai bagian dari rangkaian penutupan Hari Doa Nasional ke-5 yang tahun ini menempatkan Kalimantan Timur sebagai tuan rumah.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik Troy Harrold Yohanes Pantouw, menjelaskan bahwa lokasi penanaman pohon di kawasan Miniatur Hutan Hujan Tropis dipilih karena memiliki makna penting dalam upaya mengembalikan ekosistem hutan asli Kalimantan.
Ia menegaskan, pembangunan IKN tidak dilakukan dengan membuka kawasan hutan hujan tropis alami sebagaimana yang kerap menjadi anggapan di masyarakat. Kawasan yang kini menjadi lokasi pembangunan sebelumnya merupakan areal hutan tanaman industri (HTI) yang didominasi tanaman monokultur.
“Pembangunan IKN berada di wilayah yang sebelumnya merupakan hutan tanaman industri, bukan hutan hujan tropis alami. Jadi anggapan bahwa pembangunan IKN merusak hutan hujan tropis tidak benar. Justru melalui pembangunan ini kita ingin mengembalikan fungsi kawasan menjadi hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati,” ujar Troy Harrold Yohanes Pantouw.
Ia menjelaskan, salah satu tanaman yang sebelumnya mendominasi kawasan tersebut adalah eukaliptus, yang ditanam secara monokultur sebagai bahan baku industri pulp, kertas, dan tisu. Kondisi tersebut berbeda dengan karakteristik hutan hujan tropis Kalimantan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.
Melalui pembangunan IKN, pemerintah berupaya mengembalikan fungsi kawasan dengan menanam berbagai jenis pohon endemik Kalimantan sehingga terbentuk kembali ekosistem hutan hujan tropis yang lebih lestari.
“Melalui kegiatan ini kita ingin mengembalikan konsep hutan hujan tropis Kalimantan dengan menanam berbagai jenis tanaman lokal. Inilah yang menjadi semangat pembangunan kawasan hijau di IKN,” katanya.
Penanaman pohon yang dilakukan Ketua Umum Hari Doa Nasional, pimpinan delapan aras gereja nasional, tokoh agama, dan seluruh peserta menjadi simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus dukungan terhadap konsep pembangunan forest city yang diusung Ibu Kota Nusantara.

Usai kegiatan penanaman pohon, rombongan melanjutkan kunjungan ke Istana Negara Nusantara dan Taman Kebangsaan untuk melihat secara langsung perkembangan pembangunan pusat pemerintahan baru Indonesia serta memperoleh penjelasan mengenai konsep pembangunan berkelanjutan yang diterapkan di IKN.
Hari Doa Nasional 2026 sendiri berlangsung sejak 2 Juli 2026 di Balikpapan dengan mengangkat semangat doa bagi bangsa, persatuan, serta pembangunan Indonesia. Selama empat hari, peserta mengikuti ibadah nasional, seminar kebangsaan, doa bersama, hingga berbagai kegiatan rohani yang melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara.
Penutupan di kawasan IKN menjadi simbol bahwa pembangunan bangsa tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai persatuan, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat.
Melalui penanaman pohon di Miniatur Hutan Hujan Tropis, Hari Doa Nasional 2026 meninggalkan pesan bahwa pembangunan Indonesia harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam, memperkuat persaudaraan, serta merawat keberagaman sebagai fondasi menuju masa depan bangsa yang berkelanjutan.
Penulis : Shinta Setyana
![]()



