
Faktanusa.com, Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Kesehatan Kota Balikpapan terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan program cek kesehatan gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat. Meski telah berjalan sepanjang 2025, tingkat partisipasi warga Balikpapan dinilai masih rendah dan belum mencapai target yang diharapkan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, mengatakan capaian pemeriksaan kesehatan gratis di Balikpapan hingga saat ini baru berada di kisaran 25 persen dari total jumlah penduduk. Karena itu, pihaknya berharap partisipasi masyarakat dapat meningkat pada 2026.
“Program ini sangat bagus karena seluruh warga negara memiliki hak mendapatkan akses pelayanan kesehatan melalui cek kesehatan gratis setiap tahun. Kami berharap masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini,” ujarnya. Selasa (12/5/2026)
Menurut Alwiati, program cek kesehatan gratis merupakan bagian dari kebijakan prioritas pemerintah pusat yang bertujuan membangun sistem pemantauan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Melalui program tersebut, pemerintah ingin memastikan setiap warga memiliki catatan atau rapor kesehatan yang dapat digunakan sebagai dasar pencegahan maupun penanganan penyakit.
Sebelumnya, pemeriksaan kesehatan gratis dilakukan berdasarkan momentum ulang tahun warga. Namun kini mekanismenya berubah dan dapat diakses seluruh masyarakat tanpa harus menunggu hari ulang tahun.
“Sekarang tidak lagi mengacu pada ulang tahun. Semua warga negara berhak melakukan cek kesehatan gratis setiap tahun,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, jumlah penduduk Balikpapan saat ini mencapai sekitar 762.595 jiwa. Namun, hingga sepanjang 2025, baru sekitar 19.194 warga yang tercatat datang ke fasilitas kesehatan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.
Alwiati menjelaskan, masyarakat yang ingin mengikuti program tersebut terlebih dahulu diwajibkan melakukan pendaftaran sebelum datang ke fasilitas kesehatan, khususnya puskesmas.
“Dari total yang mendaftar, sekitar 89 persen kemudian datang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan,” jelasnya.
Ia mengakui tingkat kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan preventif masih menjadi tantangan utama. Banyak warga yang baru datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami gangguan kesehatan, padahal pemeriksaan rutin dinilai penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.
Menurut Alwiati, kelompok usia sekolah menjadi sasaran dengan tingkat partisipasi tertinggi sepanjang pelaksanaan program 2025. Hal itu karena petugas kesehatan aktif mendatangi sekolah-sekolah untuk melakukan pemeriksaan secara langsung.
Untuk kelompok usia 1 hingga 6 tahun, tercatat sebanyak 2.408 anak telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis. Sementara pada kelompok usia 7 hingga 12 tahun, jumlah peserta mencapai 4.502 orang.
“Dominasi pemeriksaan memang paling banyak pada usia sekolah karena kami turun langsung ke sekolah-sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah pemeriksaan pada kelompok usia produktif, dewasa, dan lanjut usia masih relatif rendah. Sepanjang 2025, tercatat hanya sekitar 2.380 orang dari kelompok tersebut yang memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis.
Dinas Kesehatan menilai rendahnya partisipasi kelompok usia dewasa dipengaruhi kesibukan masyarakat sehingga belum menjadikan pemeriksaan kesehatan rutin sebagai kebutuhan utama.
Karena itu, pada 2026 mendatang pemerintah berencana memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya deteksi dini penyakit. Puskesmas juga akan didorong lebih aktif melakukan pelayanan jemput bola ke lingkungan masyarakat maupun sekolah.
Alwiati berharap masyarakat dapat memanfaatkan program tersebut secara maksimal karena seluruh biaya pemeriksaan telah ditanggung pemerintah.
“Tujuan akhirnya adalah masyarakat lebih sehat dan penyakit bisa dideteksi lebih awal sebelum menjadi berat. Ini penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan warga Balikpapan,” pungkasnya. (Nil/Adv/Diskominfo Balikpapan)
![]()


