
Faktanusa.com, Balikpapan – Pasca perayaan Idulfitri, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi penyebaran penyakit campak. Tingginya mobilitas serta intensitas pertemuan selama momen Lebaran dinilai berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit menular tersebut.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Iim, mengatakan bahwa campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebar dengan cepat melalui udara, terutama dalam kondisi interaksi sosial yang tinggi.
“Campak ini termasuk penyakit yang mudah menular melalui udara. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga berisiko, terutama bagi yang belum mendapatkan imunisasi,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, aktivitas khas saat Lebaran seperti silaturahmi, berjabat tangan, hingga berkumpul dalam jumlah besar menjadi faktor yang memperbesar peluang penularan. Dampak dari interaksi tersebut biasanya baru dirasakan setelah masa perayaan berakhir.
“Setelah Idulfitri, kita tetap harus berhati-hati. Tingginya interaksi sebelumnya bisa menjadi pemicu penyebaran penyakit, termasuk campak,” katanya.
Menurut Iim, masih banyak masyarakat yang menganggap campak hanya menyerang anak-anak. Padahal, orang dewasa juga bisa tertular, terutama jika belum memiliki kekebalan tubuh yang cukup atau tidak pernah mendapatkan vaksinasi.
Ia menegaskan pentingnya langkah pencegahan sejak dini untuk meminimalkan risiko penularan. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menjaga kebersihan diri, menggunakan masker saat merasa kurang sehat, serta menghindari kontak langsung dengan orang lain jika sedang sakit.
Selain itu, ia juga mendorong masyarakat untuk lebih aktif memanfaatkan layanan kesehatan, seperti posyandu dan puskesmas, guna memastikan cakupan imunisasi tetap terjaga.
“Kesadaran masyarakat untuk datang ke posyandu masih perlu ditingkatkan. Padahal itu menjadi salah satu upaya penting dalam pencegahan penyakit melalui imunisasi,” ungkapnya.
Ia menilai, keberadaan posyandu dan puskesmas sangat vital dalam menjaga kesehatan masyarakat. Namun, keterbatasan tenaga kesehatan membuat upaya pencegahan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah semata.
“Puskesmas memang menjadi garda terdepan, tetapi partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan. Saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan itu penting,” tegasnya.
Iim juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan bayi. Kebiasaan mencium bayi yang sering dilakukan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan dinilai berpotensi menjadi media penularan penyakit.
“Kadang karena gemas, bayi langsung dicium. Padahal kita tidak tahu apakah kita sedang membawa virus atau tidak. Ini yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berharap peran berbagai pihak, termasuk media, dapat dimaksimalkan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pencegahan campak. Sosialisasi yang masif dinilai penting agar masyarakat memahami risiko dan langkah pencegahan yang harus dilakukan.
Menurutnya, edukasi yang berkelanjutan akan membantu masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitar, terutama dalam menghadapi potensi penyebaran penyakit pasca momen besar seperti Lebaran.
Dengan meningkatnya kewaspadaan dan kesadaran masyarakat, diharapkan potensi penyebaran campak dapat ditekan. Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama.
“Kalau semua saling peduli dan menjaga, tentu risiko penularan bisa kita minimalkan,” pungkasnya. (Adv./Shin/**)
![]()


