
Faktanusa.com, Balikpapan — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan memastikan informasi yang beredar di media sosial TikTok terkait dugaan adanya patahan panjang di wilayah Balikpapan tidak benar. Isu tersebut dinyatakan sebagai hoaks setelah dilakukan koordinasi dengan pihak terkait.
Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengatakan pihaknya langsung menindaklanjuti informasi yang sempat viral tersebut dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Berdasarkan hasil koordinasi kami dengan BMKG, informasi yang beredar itu tidak benar. Untuk sementara dinyatakan hoaks, jadi masyarakat tidak perlu panik,” ujar Usman, Rabu (24/2/2026).
Menurutnya, BPBD juga tergabung dalam grup komunikasi kebencanaan bersama BPBD se-Kalimantan untuk memantau potensi gempa bumi di wilayah regional. Dari pemantauan tersebut, aktivitas gempa yang cukup sering terjadi berada di wilayah sekitar Tarakan dan perairan mendekati Filipina.
“Memang ada aktivitas gempa di beberapa wilayah Kalimantan bagian utara. Namun untuk Balikpapan, dampaknya sangat kecil dan tidak signifikan,” jelasnya.
Usman menambahkan, potensi gempa besar yang selama ini menjadi perhatian nasional lebih mengarah pada wilayah patahan Palu. Sementara itu, Balikpapan tidak berada pada zona patahan aktif yang berisiko tinggi seperti daerah tersebut.
Terkait kekhawatiran kondisi tanah Balikpapan yang disebut-sebut rentan seperti di Palu, Usman menegaskan karakteristik geografis kedua daerah berbeda. Balikpapan didominasi wilayah perbukitan dengan potensi longsor yang dipicu curah hujan tinggi, bukan likuefaksi akibat gempa.
“Kalau di Balikpapan, kejadian yang sering kita temui adalah longsor karena hujan deras. Tanahnya meluncur, bukan tenggelam seperti yang terjadi di Palu,” katanya.
Ia memastikan, hingga saat ini belum pernah terjadi gempa besar yang berdampak signifikan di Balikpapan. Meski demikian, BPBD tetap menjalankan mitigasi kebencanaan secara berkala dengan melibatkan instansi terkait.
“Kami tetap berkoordinasi dengan BMKG dan melaporkan perkembangan situasi ke pemerintah provinsi hingga ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Mitigasi tetap berjalan,” ujarnya.
Selain isu gempa, BPBD juga mengingatkan potensi kebakaran yang cenderung meningkat selama Ramadan. Aktivitas memasak pada waktu sahur maupun malam hari dinilai berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama jika dilakukan dalam kondisi lelah atau mengantuk.
“Selama Ramadan, aktivitas memasak dini hari meningkat. Kami mengimbau masyarakat berhati-hati, pastikan kompor dan instalasi listrik dalam kondisi aman,” kata Usman.
BPBD Balikpapan saat ini mengaktifkan enam pos siaga yang beroperasi selama 24 jam untuk mengantisipasi kejadian kebakaran maupun bencana lainnya. Patroli rutin tetap dilaksanakan guna memastikan kondisi tetap terkendali.
Dalam waktu dekat, BPBD juga berencana menggelar apel siaga Ramadan yang kemungkinan melibatkan unsur TNI dan Polri, meski masih dalam tahap perencanaan.
Menutup pernyataannya, Usman mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Jangan langsung percaya informasi di media sosial tanpa sumber resmi. Tetap tenang, waspada, dan pastikan informasi yang diterima berasal dari instansi yang berwenang,” pungkasnya. (Nil/Adv/Diskominfo Balikpapan)
![]()



