
Faktanusa.com, Balikpapan – Perkembangan sektor properti di Kota Balikpapan menunjukkan tren perlambatan pada akhir tahun 2025. Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) dari Bank Indonesia Balikpapan mencatat pertumbuhan harga rumah baru masih terbatas, seiring dengan belum pulihnya permintaan masyarakat secara optimal.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan bahwa Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 106,52 atau tumbuh 0,43 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini melambat dibandingkan triwulan III 2025 yang tumbuh sebesar 0,67 persen (yoy).
“Pertumbuhan harga properti residensial di Balikpapan masih melandai. Hal ini dipengaruhi oleh permintaan rumah baru yang belum sepenuhnya kuat, terutama karena mobilitas pekerja yang masih terbatas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perlambatan ini terjadi pada seluruh tipe rumah, baik tipe besar, menengah, maupun kecil. Kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika proyek strategis nasional di wilayah Balikpapan dan sekitarnya, seperti proyek pengembangan kilang RDMP serta pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tahap pertama yang mulai memasuki fase penyelesaian.
Sementara itu, realisasi pembangunan IKN tahap kedua yang masih terbatas turut memengaruhi aktivitas ekonomi dan jumlah pekerja yang berdomisili di Balikpapan. Dampaknya, permintaan terhadap hunian baru belum mengalami peningkatan signifikan.
Dari sisi penjualan, volume rumah baru yang terjual juga masih menunjukkan tren penurunan. Pada triwulan IV 2025, tercatat sebanyak 119 unit rumah terjual atau turun 42,79 persen (yoy). Meski demikian, penurunan ini tidak sedalam triwulan sebelumnya yang mencapai 46,12 persen.
Menariknya, penjualan rumah tipe besar justru mengalami peningkatan secara triwulanan. Pada periode tersebut, penjualan rumah tipe besar naik signifikan hingga 108 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi konsumen ke segmen menengah atas.
“Penjualan rumah tipe besar mengalami peningkatan, yang menunjukkan adanya minat dari segmen menengah atas. Sementara untuk tipe kecil dan menengah masih mengalami penurunan,” jelasnya.
Dari sisi pembiayaan, mayoritas masyarakat Balikpapan masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa mencapai 78 persen. Sementara pembelian secara tunai bertahap dan tunai penuh masing-masing sebesar 13 persen dan 9 persen.
Penyaluran KPR di Balikpapan pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar Rp4,97 triliun atau tumbuh 4,16 persen (yoy). Meski mengalami perlambatan, kualitas kredit tetap terjaga dengan tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang masih berada di bawah 5 persen.
Di sisi lain, sektor properti komersial juga mengalami tekanan. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) tercatat turun sebesar 0,36 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi pada hampir semua segmen, termasuk perkantoran, hotel, dan apartemen.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya permintaan, terutama di sektor perhotelan yang terdampak kebijakan efisiensi kegiatan pemerintah. Selain itu, menurunnya aktivitas pekerja proyek juga berimbas pada permintaan sewa apartemen dan ruang perkantoran.
Meski menghadapi berbagai tantangan, pelaku usaha properti di Balikpapan masih menunjukkan optimisme terhadap prospek ke depan. Hal ini didorong oleh potensi peningkatan mobilitas masyarakat seiring berlanjutnya pembangunan IKN tahap kedua serta operasionalisasi proyek industri hilirisasi di Kalimantan Timur.
Bank Indonesia juga terus mendorong pertumbuhan sektor properti melalui kebijakan makroprudensial, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diarahkan untuk meningkatkan pembiayaan sektor prioritas seperti perumahan.
“Ke depan, prospek sektor properti masih cukup baik. Dengan dukungan kebijakan serta berlanjutnya pembangunan proyek strategis, kami optimistis permintaan akan kembali meningkat,” pungkasnya. (Shin/**)
![]()


