
Faktanusa.com, Balikpapan – Kasus penangkapan seorang aparatur sipil negara (ASN) berinisial VR (43) yang diduga terlibat transaksi narkotika jenis sabu di wilayah Balikpapan Selatan menjadi perhatian serius di Balikpapan. Peristiwa ini dinilai sebagai peringatan keras bagi seluruh ASN agar tetap menjaga integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas.
Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Yono Suherman, mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Ia menilai, ASN sebagai pelayan masyarakat seharusnya menjadi teladan, bukan justru terlibat dalam pelanggaran hukum.
“Saya mengetahui informasi ini dari media. Tentunya akan kami sampaikan kepada dinas terkait, karena ASN itu harus menjadi panutan bagi masyarakat,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Kota Balikpapan, Senin (30/3/2026).
Menurut Yono, tindakan tegas perlu segera diambil apabila yang bersangkutan terbukti terlibat dalam penyalahgunaan maupun peredaran narkoba. Ia menegaskan bahwa pembiaran terhadap kasus seperti ini dapat menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.
“Kalau memang terbukti, harus ada tindakan tegas. Jangan sampai dibiarkan karena bisa menjadi contoh buruk bagi ASN lainnya,” tegas politisi Fraksi NasDem tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya peran pimpinan dalam melakukan pengawasan terhadap anggota di masing-masing instansi. Menurutnya, monitoring yang baik dapat mencegah terjadinya pelanggaran serupa di lingkungan kerja pemerintahan.
“Ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Para pimpinan harus mengetahui aktivitas dan kondisi anggotanya. Pengawasan itu penting agar tidak menjadi kebiasaan buruk,” katanya.
Lebih lanjut, Yono mendorong agar pemerintah kota mempertimbangkan pelaksanaan tes urin secara menyeluruh bagi ASN sebagai langkah preventif. Ia menilai, kebijakan tersebut dapat menjadi upaya nyata dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di lingkungan birokrasi.
“Dengan kejadian ini, kita akan dorong Wali Kota dan dinas terkait untuk membuat program tes urin bagi ASN. Ini penting untuk mencegah peredaran narkoba, bahkan sejak proses rekrutmen seperti P3K,” jelasnya.
Menurutnya, faktor yang menyebabkan seseorang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba cukup beragam, mulai dari lingkungan pergaulan, tekanan pekerjaan, hingga faktor pribadi. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh.
“Banyak faktor yang memengaruhi, bisa dari lingkungan, pergaulan, bahkan tekanan hidup. Tapi yang utama tetap pada diri masing-masing. Tes urin terbuka bisa menjadi salah satu solusi karena ada efek jera,” ungkapnya.
Yono menambahkan, langkah-langkah tegas yang diambil pemerintah bukan hanya untuk penegakan disiplin, tetapi juga untuk menjaga kualitas pelayanan publik tetap optimal. Selain itu, penanganan yang tepat diharapkan dapat membantu ASN yang terlibat untuk memperbaiki diri.
“Tujuan kita bukan hanya memberi sanksi, tetapi juga memastikan kinerja dinas tetap berjalan baik dan memberikan kesempatan bagi yang bersangkutan untuk memperbaiki diri,” pungkasnya.
Kasus ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bagi seluruh jajaran ASN di Balikpapan untuk meningkatkan integritas serta menjauhi praktik-praktik yang melanggar hukum, khususnya penyalahgunaan narkotika yang dapat merusak karier dan masa depan. (Adv/Shin/**)
![]()


