Balikpapan mencatat inflasi 0,75 persen (mtm), sementara Penajam Paser Utara (PPU) sebesar 0,89 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Balikpapan mencapai 4,14 persen (yoy) dan PPU 4,13 persen (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibanding inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 4,64 persen (yoy) dan nasional 4,76 persen (yoy), namun masih berada di atas sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Peningkatan inflasi pada Februari 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan permintaan menjelang Ramadan serta terganggunya pasokan sejumlah komoditas akibat curah hujan yang tinggi di daerah sentra produksi,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, di Balikpapan, komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain angkutan udara, emas perhiasan, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, dan kangkung. Sementara di PPU, komoditas seperti ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan buncis menjadi pendorong utama kenaikan harga.
“Cuaca yang kurang kondusif berdampak pada hasil pertanian dan tangkapan nelayan. Di sisi lain, permintaan masyarakat meningkat seiring momentum Ramadan dan Idul Fitri,” jelasnya.
Meski demikian, sejumlah komoditas turut menahan laju inflasi. Di Balikpapan, bensin, bawang merah, dan daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi. Penurunan harga bensin merupakan dampak kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku sejak 1 Februari 2026.
Robi menambahkan, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 yang mencapai 131,8, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 122,7.
“Keyakinan konsumen yang tetap optimis menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Namun, kami tetap mewaspadai potensi tekanan inflasi ke depan, terutama akibat puncak musim hujan dan risiko gangguan distribusi,” katanya.
Sebagai langkah antisipatif, Bank Indonesia Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat sinergi melalui peningkatan frekuensi operasi pasar dan gelar pangan murah, monitoring harga dan stok, penguatan kerja sama antar daerah, serta komunikasi efektif kepada masyarakat.
“Kami terus mendorong penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan pasokan tetap terjaga dan harga terkendali, sehingga inflasi dapat kembali berada dalam rentang sasaran nasional,” tegas Robi. (Shin/**)