
Faktanusa.com, Balikpapan – SLB Negeri Balikpapan memasuki babak baru dalam kepemimpinan sekolah seiring dengan mutasi Kepala Sekolah, Solikatun Napiah, S.Pd., M.Pd., yang mendapat amanah baru untuk bertugas di SLB Negeri Grogot. Pergantian ini menjadi momentum penting bagi keberlanjutan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus di Kota Balikpapan. Posisi kepala sekolah kini resmi dijabat oleh Titik Widiastuti, S.Pd., M.Pd, yang menyatakan kesiapan untuk melanjutkan serta mengembangkan berbagai program yang telah dirintis sebelumnya.
Serah terima jabatan tersebut tidak hanya menjadi ajang formal pergantian pimpinan, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas capaian, tantangan, dan harapan ke depan bagi SLB Negeri Balikpapan. Dalam wawancara, Solikatun Napiah menyampaikan rasa syukur atas berbagai kemajuan yang telah dicapai selama masa kepemimpinannya, sekaligus menitipkan sejumlah pekerjaan rumah kepada kepala sekolah yang baru.
Salah satu capaian utama yang menjadi kebanggaan adalah penataan kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Solikatun, pembelajaran ekstrakurikuler kini telah berjalan lebih terarah dan terjadwal secara rutin. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap hari Senin hingga Kamis, mulai pukul 13.00 sampai 15.00 WITA. Penjadwalan yang konsisten ini dinilai sangat membantu dalam membangun karakter, keterampilan, serta potensi nonakademik peserta didik.
“Alhamdulillah, anak-anak sekarang sudah memiliki jadwal ekstrakurikuler yang teratur. Ini membuat pembinaan menjadi lebih fokus dan berkelanjutan,” ujar Solikatun. Senin (26/1/2026)

Ia menambahkan bahwa dampak dari penataan tersebut terlihat nyata melalui berbagai prestasi yang diraih oleh siswa sepanjang tahun 2025.
Pada tahun tersebut, siswa SLB Negeri Balikpapan berhasil menorehkan prestasi di tingkat provinsi maupun nasional. Prestasi ini, menurut Solikatun, tidak terlepas dari kerja sama yang solid antara pihak sekolah, guru, serta para pelatih. Sekolah secara khusus juga mengalokasikan anggaran untuk mendukung kegiatan pelatihan, termasuk penyediaan sarana dan bahan pendukung.
“Kami berkoordinasi dan berkolaborasi dengan bapak ibu guru serta para pelatih. Sekolah juga menyediakan anggaran untuk pelatihan dan bahan-bahan yang dibutuhkan. Dengan dukungan tersebut, pelatihan bisa berjalan maksimal, dan Alhamdulillah hasilnya terlihat melalui berbagai prestasi dan juara yang diraih anak-anak,” jelasnya.
Selain bidang pembinaan siswa, pembangunan sarana dan prasarana sekolah juga menjadi capaian penting selama masa kepemimpinan Solikatun. SLB Negeri Balikpapan menerima berbagai bantuan, di antaranya pembangunan enam ruang kelas baru. Selain itu, terdapat pula bantuan berupa penyiringan tanah dan pematangan lahan yang sangat membantu pengembangan sekolah.
Menurut Solikatun, tambahan ruang kelas dan penataan lahan tersebut menjadi modal penting bagi SLB Negeri Balikpapan untuk terus berkembang. Dengan ketersediaan ruang yang lebih memadai, sekolah memiliki peluang untuk menambah layanan dan fasilitas pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
“Dengan adanya enam ruang kelas baru dan pematangan lahan, sekolah memiliki peluang besar untuk menambah ruang dan mengembangkan layanan. Wajah SLB Negeri Balikpapan sekarang sudah jauh lebih baik dan representatif dibandingkan sebelumnya,” ungkapnya.
Namun demikian, Solikatun juga secara terbuka menyampaikan sejumlah tantangan dan pekerjaan rumah yang masih perlu diselesaikan. Salah satunya adalah terkait penghijauan lingkungan sekolah. Penebangan pohon-pohon besar terpaksa dilakukan karena dinilai berbahaya bagi keselamatan siswa dan juga berdampak pada kerusakan bangunan akibat akar pohon yang menjalar.
Akibat penebangan tersebut, lingkungan sekolah kini terasa lebih panas dan membutuhkan penataan ulang dari sisi penghijauan. Solikatun menyebut hal ini sebagai salah satu pekerjaan rumah yang dititipkan kepada kepala sekolah yang baru.
“Penghijauan memang masih kurang. Banyak pohon besar yang terpaksa ditebang karena faktor keselamatan dan kerusakan bangunan. Ke depan, mudah-mudahan bisa dilakukan penghijauan kembali agar lingkungan sekolah menjadi lebih sejuk dan nyaman,” katanya.
Selain persoalan lingkungan, isu legalitas lahan juga menjadi perhatian. Dari total lahan yang dimiliki SLB Negeri Balikpapan, sekitar 13.688 meter persegi telah bersertifikat. Namun, masih terdapat sekitar 2.400 meter persegi lahan yang belum tersertifikasi. Meski demikian, lahan tersebut telah tercatat sebagai aset sekolah dan tinggal menunggu proses pengurusan sertifikat.
Solikatun juga mengungkapkan adanya tantangan lain berupa keberadaan rumah warga yang menempati sebagian lahan sekolah. Kondisi ini tentu memerlukan penanganan yang bijak dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta menjadi bagian dari pekerjaan rumah yang perlu ditindaklanjuti oleh pimpinan sekolah yang baru.
Dalam hal tantangan kepemimpinan, Solikatun menuturkan bahwa di awal masa tugasnya, membangun kerja sama yang solid antara sekolah, guru, dan orang tua siswa menjadi tantangan tersendiri. Pada awalnya, membangun sinergi tersebut tidak berjalan mudah. Namun, melalui berbagai pertemuan, rapat rutin, serta komunikasi yang intens, kerja sama tersebut akhirnya dapat terjalin dengan baik.
“Kami terus membangun komunikasi dengan guru dan orang tua. Setiap kegiatan sekolah selalu kami sampaikan kepada orang tua. Kami juga beberapa kali mengadakan kegiatan parenting, baik untuk orang tua maupun untuk siswa,” tuturnya.

Upaya tersebut membuahkan hasil positif. Hubungan antara sekolah dan orang tua semakin harmonis, serta dukungan terhadap berbagai program sekolah semakin meningkat. Bahkan, SLB Negeri Balikpapan kini sering menerima kunjungan dari berbagai pihak yang ingin belajar dan melihat langsung praktik pendidikan inklusi yang diterapkan di sekolah tersebut.
“Kami cukup sering menerima tamu yang ingin belajar tentang layanan pendidikan di SLB. Ini menjadi salah satu daya tarik dan sekaligus menjadi pengakuan bahwa SLB Negeri Balikpapan dipandang sebagai tempat rujukan untuk belajar tentang pendidikan inklusi,” tambah Solikatun.
Sementara itu, kepala sekolah baru SLB Negeri Balikpapan, Titik Widiastuti, S.Pd., M.Pd, menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan berbagai program yang telah berjalan dengan baik. Ia menegaskan bahwa estafet kepemimpinan ini akan dijadikan sebagai momentum untuk memperkuat kualitas layanan pendidikan, baik dari sisi akademik, non akademik, maupun pengelolaan sekolah secara keseluruhan.
Titik menyatakan bahwa program-program unggulan, seperti pembinaan ekstrakurikuler dan penguatan prestasi siswa, akan tetap menjadi prioritas. Di sisi lain, ia juga berkomitmen untuk melakukan evaluasi terhadap program yang masih perlu ditingkatkan agar pelayanan pendidikan semakin optimal.
“Kami akan melanjutkan program-program yang sudah berjalan dengan baik. Untuk program yang masih memiliki kekurangan, tentu akan kami evaluasi dan perbaiki. Tujuan kami adalah memastikan SLB Negeri Balikpapan terus berkembang sebagai sekolah yang berintegritas dan mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas,” ujar Titik.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan antara sekolah, guru, orang tua, serta pemangku kepentingan lainnya. Menurutnya, keberhasilan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus tidak bisa dilepaskan dari dukungan semua pihak.
“Kerja sama dengan orang tua dan masyarakat akan terus kami perkuat. Kami ingin memastikan bahwa setiap anak mendapatkan layanan pendidikan yang adil, setara, dan sesuai dengan kebutuhan mereka,” tambahnya.
Pergantian kepemimpinan di SLB Negeri Balikpapan ini diharapkan tidak hanya menjadi proses administratif semata, tetapi juga menjadi tonggak penguatan kualitas layanan pendidikan khusus di Balikpapan. Dengan bekal capaian yang telah dirintis oleh kepala sekolah sebelumnya serta komitmen kuat dari kepala sekolah yang baru, SLB Negeri Balikpapan diharapkan mampu terus meningkatkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang ramah, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan potensi setiap peserta didik.
Ke depan, berbagai tantangan seperti penataan lingkungan, sertifikasi lahan, serta penguatan sarana dan prasarana diharapkan dapat ditangani secara bertahap. Dengan sinergi yang baik antara sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat, SLB Negeri Balikpapan diyakini dapat terus berkembang dan menjadi contoh dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Reporter : Shinta Setyana
![]()



